Tangisan Hujan

hujan datang di musim ini, di penghujung bulan desember yang basah oleh gerimis hati. hadirnya tak pernah ternikmati oleh mereka yang berhati bagai batu. selalu perih namun hujan senantiasa datang dan datang lagi dengan setianya. tak peduli dimana kapan dan bagaimana...... keyakinannya terpegang erat dalam dekapan mendung kelabu di atas awan.


"aku juga ingin dianggap ada", demikian suatu kali hujan berbisik pada angin yang berhembus disela-sela gedung tinggi dan belukar alam raya.

"kau ada, namun tak setiap jiwa bisa merasanya", jawab angin acuh tak acuh seraya terbang membumbung tinggi menembus langit gelap. melayang menyapa pohon, sungai, hutan, gunung,dan entah apa.

perih menghujam hujan kala kehadirannya tak senantiasa diharap.. dipaksa berucap namun hanya kelu yang terluap. pengap................cuma senyap.

hujan menangis dan menangis semakin hebat. jiwanya gemetar semakin kuat.. ia seperti di tarik paksa untuk hadir di suatu tempat...dan dijejali semua kata keramat yang ia tak mampu melumat.

perih..perih..perih......jiwanya merintih........

"menyingkirlah hujan ! agar tak ada lagi jiwa yang tersakiti oleh mu.... pergilah sejauh mungkin karena tempat yang kau kunjungi hanyalah fatamorgana, oase semu di tengah kemarau panjang yang tak terelaki.......!!!!" usir sebuah suara tanpa rupa .

airmata hujan membanjir serupa bah, berteriak tanpa suara..menangis sekuat tenaga hingga membenamkan seluruh kota dengan airnya yang bergejolak..marah......

kemudian...tangisannya perlahan senyap.....

"tolong aku....." ujarnya lirih....sedemikian lirih hingga tak ada yang mampu mendengarnya bahkan hatinya sendiri.


( Sementara itu ditempat terpisah...sesosok tubuh terpaku melihat hujan yang mengamuk di luar jendela. sendirian disudut ruangan itu, menatap lelehan hujan yang menetes. Hujan ada diluar, tapi dia pun merasai tetesan yang sama mengalir di pipinya. dan Dia begitu membenci hujan saat itu, begitu membencinya....)

Jomblo? Siapa Takut?

"KAPAN NIKAH ?"

Rasanya pertanyaan itu seringkali disodorkan oleh orang lain ketika berhadapan dengan teman, sahabat, atau saudara yang belum menikah . atau pertanyaannya ditambahi dengan kata2, "Kapan Nikah Lagi ?" untuk yang berstatus single parent seperti aku.

Terkadang pertanyaan itu membuat jengkel kita-kita yang sama sekali belum punya pasangan. Lha iya lah...gimana mau nikah kalau pasangan aja belum punya ? pasti gondok kan dikejar pertanyaan yang sama terus menerus dimanapun ?

Berikut ini adalah beberapa jawaban jitu yang mungkin bisa dipraktekkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bertubi2 dilontarkan kepada kita mengenai pernikahan ini :

1. Yah, saya sih bagaimana Yang Di Atas saja... ( maksudnya... Cicak ? *sambil ngeliat ke eternit*)

2. Tenang aja, Belanda masih jauuuh.. ( jawaban paling kuno yang pernah ada di muka bumi ini )

3. Takkan Lari Gunung Di kejar. ( mungkin maksudnya , kalau mau nyari jodoh sebaiknya sambil naik gunung aja kali ya ? )

4. Kebahagiaan kan tidak selalu harus dicapai dengan menikah... ( Nah.. ini jawaban yang sok mandiri banget ! sombong... padahal hatinya berdarah2 tuh...heuheuheu)

5. Saya cukup happy dengan hidup begini kok..( sambil siul2 gak jelas dan berharap cepet pulang ke rumah supaya bisa nyungsep nangis di bawah bantal )

6. Ada Deeeeeh... ( berlagak jadi orang yang super misterius padahal dalam hati coba ngebayangin satu persatu wajah cowok2 yang pernah nolak kita, kang ncep, mas paijo, bang tigor, bla..bla..bla...)

7. Sok atuhlah..tolong cariin ya... ( masang wajah memelas dan terkesan merana banget....penggemar berat lagu wali yang judulnya 'cari jodoh')

8. Tidak perlu menjawab, cukup memberikan senyum termanis yang kita punya ( berharap orang yang bertanya akan melanjutkan ke pertanyaan lain atau memberikan kesempatan kepada kita untuk kabur tunggang langgang dari hadapan beliau...)


Naaaah, kalau aku yang ditanya, sebaiknya pilih nomor berapa yaaa ? Hmmmm..... pasti aku akan rangkum semua jawaban di atas menjadi satu jawaban lengkap ..

"Ada deeeeeh......Yah, saya sih bagaimana Yang Di Atas aja. Tenang aja deh, belanda masih jauh kok, takkan lari gunung dikejar kan ? kebahagiaan kan gak harus dicapai dengan menikah...lagipula saya cukup happy kok hidup sendiri seperti ini. atau.... berminat mengenalkan saya dengan seseorang ?" Lalu kututup jawaban essay itu dengan satu senyuman termanis yang bisa aku berikan dan aku upayakan supaya senyuman manis itu tidak ternoda dengan tetes airmata yang mulai ngeuyeumbeung....hihihihihihihihi...



Cinunuk, 02 April 2010

*terinspirasi setelah membaca sebuah novel*

Bukan Puisi Hujan

Malam begitu ngilu dipagut rindu beku
: kepadamu....

benarkah lantunan itu ada memenuhi labirin kepala yang berputar mengoceh tak henti ?
melangutkan nada sumbang tanpa kata,
kutunggu waktu menyerah pasrah

Hujan, bisikmu kala senja memerah tembaga..
Nantikan aku di kotamu..



Dan aku menggigil menahan getar

( Malang, 2010 )

Pernikahan Hujan

Telah menikah :

Hujan dan Hening

Dengan mahar segenggam purnama
Yang tak pernah pudar

Disaksikan malam pekat
Berselimut pelangi

Dihadiri oleh rindu, kasih, biru,
Hitam, pekat, luruh,
Cemas, sedih....

Lalu,
Mereka Bercerai

Dan : kembali sunyi

Beribu Rindu

Beribu biru jadi rindu
Beribu rindu jadi syahdu
Beribu kamu di kepalaku
Rindu, jadi beku

Beribu ribu ribu ribu
Membiru biru biru biru
Rindukamurindukamurindukamu
Rindu biru beribu ribu

O, Sajakku jadi Rindu !
Rindu di tepi-tepi matamu.....


( Hujan, 2010 )

Puisi Senja

Terkadang Kuragu Akan Kita,

Akan Jejak yang Coba Kita Toreh Pada Hening Yang Kusam..

Melangut Rasa Pada Senja Yang Tak Lagi Tembaga

Menjejal Rindu Pada Peti Usang Yang Kau Tepikan Di Pelabuhan itu


Sementara Kutarikan Gundah

: Di tepian Malamku



Milyaran Kenangan Yang Bermain Di Pucukpucuk Kerlingmu

Tak Dapat Kutangkap Lagi Dengan Seratus Juta Harap

Lariklarik Pelangi Tak Lagi Jingga

Retas.... Lantas kandas


( Bandung, Mei 2010 )


Dedicated to Someone

RINDU ( 1 )

Rindu rambut panjangmu
menarinari di wajah
hingga tersungkur di sudut senyum
yang kau sungging
di senja itu

**************************************

PULANG

"aku harus pulang", bisikmu

lalu kau bergegas menarik sembilu
yang kau tancapkan tepat di jantungku
tinggalkan luka menganga
tanpa jeda tanpa rasa
hanya jingga memerah darah

**************************************

RUMAH

semestinya kamulah rumahku
tempatku menyimpan keluh
meletakkan nyaman dalam keranjang cinta
menutup mata dari penat dunia

seharusnya kamulah tempatku pulang
menjejakkan kaki di beranda
menghirup wangi kopi dari kepulan asap
di secangkir gelas yang kau seduh dengan cinta

sepatutnya kamulah denyut nadiku
berdenyar diseluruh ruas tubuh
saat kita memainkan melodimelodi kesunyian
dalam perjumpaan tubuhtubuh penuh keringat

selayak rumah tempatku menitipkan hening tentram
sepantasnya aku dan kau diam dalam temaram
jelang malam yang suram mencekam

"kita dalam irisan yang berbeda", tuturmu kelu
dan : selembar daun menguning hinggap di beranda berdebu

****************************************

( Bandung, 23 Mei 2010 )

Ode Untuk Adikku

Dik ,

Mungkin esok, hujan tak lagi datang dari timur..

Namun kelak ketika saat itu tiba, haruskan wanita itu menangisinya ?

Serupa istana pasir yang ia bangun di tepian istana megah

Sedemikian indah namun tetap saja kosong

Kelak wanita itu kurasa juga mesti menegakkan kepala

Dan menghiasi bibirnya dengan tersenyum terindah,

"Terima kasih sayang, pernah ada satu masa kau menjadi bagian dari hidupku meski teramat singkat kueja cintamu..."



Dik,

Seperti tadi kau bilang tentang hidup yang seperti roda berputar

Hari ini kita mencinta dan tertawa bersama

Namun esok bisa saja giliran kita terjaga

Memandanginya berjalan bergegas menuju rumah, tempatnya pulang

Kita tentu sama tak bodoh bukan ? berharap hidup seindah film yang diputar di layar kaca

Bermimpi tentang pangeran yang rela menukar permaisuri dengan rakyat jelata ?

Ha ha, mencoba menafikkan rasa mengenyampingkan logika..



Dik,

Kita biarkan saja hidup membawa kita kemana ia suka

Jangan dulu memutuskan hendak berhenti di halte yang mana

Karena mungkin perjalanan kita mesti diteruskan

Dan takkan pernah menangisinya kelak...

Hingga nanti telah ia pastikan kemana ia hendak pulang...

Menuju ke arah atau berbalik dari : KITA




( Bandung Sunyi, 24 Mei 2010 )

Pantun Tentang Cinta

Aku bukanlah malaikat bersayap dua
yang kedua sayapnya berkilau ditimpa cahaya
Aku hanyalah wanita biasa
Dengan hanya satu sayap, itupun terluka

Aku bukanlah wanita bermata indah dan berlesung pipi
Yang selalu tersenyum untukmu acapkali
Aku hanyalah wanita biasa seperti ini
Yang ingin memberimu cinta meski hanya di hati

Aku bukanlah seorang penyair terhebat
yang bisa menghujanimu dengan puisipuisi lekat
Membelaimu dengan katakata penuh hasrat
Atau bahkan menjejalimu ribuan penat

Aku bukanlah mereka
yang selalu mengerubungimu dengan tawa
Menjanjikan keteduhan dan nyaman senantiasa
Dan menaatimu dengan kepatuhan diluar kepala

Aku, wanita dengan sayap terluka
Sesekali mendatangimu dengan airmata dan tanpa tawa
Mengesalkanmu dengan keluhan tanpa jeda
Membawa riuh ke dalam hidupmu dengan seribu tanda tanya

Aku hanya punya cinta
Cinta wanita biasa
Yang tak menjanjikanmu apaapa
Selain rasa sepanjang sisa usia
Menemanimu duduk di beranda saat senja menembaga
menyaksikan anakanak kita kelak tertawa menatap purnama
Hingga kita tiba di penghujung masa


( Timur Bandung, 27 Mei 2010 )

Rindu Gerimis

Apakah hati kita masih menyisa cinta,
Ketika pada malam2 panjang kuurai gerimis
Dari mata yang mengalirkan duka ?


Apakah Rindu itu masih tereja ,
Kala lautan teramat luas merentang batas
Melemparkan angan hingga mabuk terbuai ombak ?


Apakah kau dengar pekikan camar,
Yang nyaring melengking tinggi
Menjeritkan nada-nada keputusasaan mencekik leher
Hingga melelahkan sayapnya mengepak pulang ?


Sayang,
Gerimis menyisa milyaran tanya
Muntahkan letih yang membebat rasa
Melabuhku pada rentang waktu



( Timur Bandung, 28 Mei 2010 )

Lelaki, Hujan, dan Cinta

Lagi-lagi Cinta

Ah, lagilagi sebuah sajak usang tentang cinta
Yang tak habis kau reguk nikmatnya
Dari secawan rasa yang kau petik diamdiam
Tanpa seizin pemiliknya

Ah, terlalu mudah kau percaya
Pada lantunan manis janji hati
Yang ia ucapkan hanya ketika kalian berdua
Dan terlupa bagai koran bekas dibaca
Dilipat, ditumpuk dan diselipkan entah dimana

Ah, apa itu rindu ?
Candu yang kadang palsu
Untuk apa kau teriakkan pada tembok beku ?
Percayakah, dia takkan tahu ….


******************************************

Kau Dan Hujan

Hujan meluruh dimatamu
Mata yang memintal benang dan menenun cinta
Untukkukah atau untuknya ?
Kutahu tak mungkin untuk keduanya


******************************************


Spiderman Jatuh Cinta

Peter Parker menyisir tembok gedung
Mary Jane memandang hujan
Dan bummm…..!
Mata mereka bertemu di rinai yang sama


******************************************


Sajak Timur Bandung


Namamu tibatiba memaksa menelusuk
Menepi di timur yang rusuh
Geragap kugapai madu yang kau tawarkan
Mencoba menandaskan seluruh
“Habiskan, sayang… itu untukmu”
Bisik suara tanpa rupa
Tergugu
Cawan itu tergeletak separuh penuh
Cinta itu tumbuh di timur, sayang, bukan di barat
Bisikku pada bayanganmu yang menyelinap pergi


( 29 Mei 2010 )

Bertemu Denganmu Dalam Sebuah Perjalanan

( Untuk Sahabat-sahabat Mayaku )





Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya, selain sebagai suatu fase panjang yang harus kita lalui sebagaimana mestinya, untuk mencapai suatu kesempurnaan. Hidup tak selalu bisa terencana akan dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani tanpa tahu arah dan tujuan, namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.


Bagiku hidup dimulai ketika aku paham, untuk apa aku dilahirkan. Seperti sebuah perjalanan panjang menuju satu keabadian. Perjalanan yang tak akan pernah sanggup aku lalui sendirian. Melangkah sunyi, ditengah keramaian, perasaan terasing dalam sebuah pesta pora yang berujung huru hara. Sungguh, betapa sepi hidupku tanpa kehadiran peran-peran lain yang mewarnai setiap langkah hari demi hari.


Bagiku hidup bagaikan sebuah persinggahan dalam menjalani suatu perjalanan. Terkadang kita berhenti sejenak melepas lelah, menatap sekitar, menyaksikan polah tingkah orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Mempelajari aneka rasa, sedih,marah, kecewa, tangis, bahagia, senyum, hampa dan kosong.


Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak, perlahan menjejak. Dalam perjalanan yang terkadang berbatu, terkadang mendaki dan terjal, menurun, tandus, penuh bunga. Bagaikan sebuah pentas drama raksasa yang penuh aktor menyelami perannya masing-masing. Dengan skenario diselembar kertas lusuh terlekat erat ditangan.


Aku bertemu pelangi, aku bertemu hujan yang merindukan bumi, aku bertemu timur dan barat, aku menjumpai banyak sosok yang berperan penting dalam perjalanan hidupku.

Dan aku menjumpaimu.....


Sosok yang kutemui dalam sebuah halte persinggahan ketika aku melepas lelah. Seorang yang malu-malu menyapa dengan hati-hati dan santun, hingga membuatku merasa perlu menjawab uluran perkenalan yang kau tawarkan. Menjawab sapaanmu menjadi suatu keharusan buatku dan bukan kewajiban.


Kamu akhirnya menjadi teman perjalanan yang cukup menyenangkan , aku mengatakan cukup karena kita belum pernah saling bertatap muka, hanya sebuah perjalanan menyusuri ruang-ruang maya yang dingin dan beku. Sebuah percakapan ringan melompat dari satu masalah ke masalah lain, dari satu topik ke topik lain. Mengalir begitu saja.


Tiba-tiba sosokmu begitu saja mengisi hari-hariku tanpa terencana, tanpa rekayasa, sedemikian mengalirnya hingga aku tak menyadari sejak kapan semua ini diawali. Setiap kata yang kita lontarkan, setiap kalimat yang kita bagi, dan setiap rangkaian cerita yang kita ungkap, semua seolah berujung pada satu makna : KAU DAN AKU TIDAK BERANJAK KEMANA-MANA. Seolah, saat kamu menjalani seluruh kisah hidupmu dan aku menjalani kisahku sendiri, kita menjalaninya bersama-sama.


Kau yang begitu tegar dan kuat, mampu mengisiku yang rapuh dan lemah. Mencintaiku selayak seorang sahabat dan saudara terbaik yang pernah ada, tak peduli berapa puluh orang yang telah hadir sebelum kamu. Menepis keraguanku tentang persahabatan semu di dunia maya yang beku.


Aku yakin, jika memang kita tulus dalam perjalanan ini, kita akan bisa menjadi sahabat terbaik untuk satu sama lain. Kita bisa menangis bersama, terdiam memandang lepas menatap entah kemana sementara aku ada disisimu dan kamu ada disisiku. Sekedar menikmati secangkir kopi dengan gula ditakar sendiri, bercakap tentang kegilaan yang terjadi di hari-hari kita, berbagi kisah yang teramat biasa namun bisa menjadi luar biasa ketika kisah-kisah itu keluar dari dirimu. Kisah kita sangat sederhana kadang hanya diskusi tak penting.


Ya, kita memang memiliki hidup yang berbeda. Suatu saat nantipun kamu mungkin akan pergi setelah kamu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin akupun akan beranjak ke tempat yang berbeda. Mungkin kita akan dipertemukan lagi di penghentian selanjutnya, atau bahkan ku tak akan pernah melihatmu lagi dalam hidupku ?


Aku tahu, suatu saat nanti kita pasti melanjutkan hidup kita masing-masing. Setelah hari mulai merayap senja. Setelah kita cukup tenaga untuk berjalan menempuh perjalanan panjang kembali. Menemui peran-peran lain dalam kehidupan kita. Kamu dengan hidup barumu, dan aku dengan hidupku yang mungkin akan terbaharui ataupun tidak namun selalu kaya akan warna.


Hingga kelak, perjalanan kita di dunia akan tiba pada perhentian terakhir. Perhentian yang menjadi mula dari perjalanan abadi kita di pelukan Ilahi. Akankah kita kembali dipertemukan dalam rengkuhan-Nya ? Dalam kesejatian yang paling sejati ? semoga saja, segala amalan kita di dunia yang kita persiapkan akan membawa kita bertemu kembali, Sahabat… Di pertemuan paling hakiki. Semoga, kelak disana, skenario Sang Maha Sutradara akan membawa kita mengakhiri panggung-panggung sandiwara ini dengan applause tanpa henti dari mereka yang menyaksikan kita memainkan peran kita dengan sempurna.

Amin… Ya Rabb….


NB : Jika reinkarnasi itu ada, akankah aku bereinkarnasi menjadi Truk Pasir agar kelak mungkin akan kau tumpangi ?? atau menjadi pelangi yang senantiasa kau cari ? atau hanya menjadi hujan yang akan mengunjungimu sesekali ? entahlah....



Aku akan bernyanyi bersamamu…
Duduk disampingmu…
Menangis untukmu jika kau mau
Mengikuti setiap langkahmu …
Selama kamu membutuhkanku…
Terima kasih buat segalanya..
Untuk setiap waktu yang kau korbankan untukku
Untuk setiap pulsa yang kau habiskan untuk menghubungiku
Untuk setiap senyum yang kau berikan untukku
Untuk setiap empati yang kau sediakan selalu..
Untuk setiap kata-kata baik hati yang selalu siap kau ucapkan padaku..
Terima kasih, sungguh terlalu….



Sungguh Senang Bercakap Denganmu….

Cerita Bulan

Pada bulan tak bulat sempurna,
Kupagut rindurindu tak usang dijelang malam
Memahat angan pada gemericik air yang tak mau diam
Bulan temaram, bungkam oleh riuh hati berdentam
Melangutkan mimpi tak jua padam

Bulan belum purnama, melabuhkanku padamu
Mencatatkan sejuta kenang pada dinding hati kita yang kepayang :
Mabuk oleh cahaya bulan.
Saling berkirim pesan tentang kerinduan dan kehilangan
Panjatkan ribuan harap tentang purnama yang akan datang
Yang mungkin akan kita jelang bersama, Menikam sepi hingga tak lagi terbagi

Kelak, kan kuiris bulan menjadi dua bagian yang sama
Kupersembahkan sebagian untuk kau simpan
Bersama doadoaku yang akan berjatuhan satu persatu kepangkuanmu
Hingga kau yakin, bulan ini memang milikmu dan aku

Bulan ¾ , arah jam dua
Itulah mantra kita…….

Sepasang Sayapmu, Teman ...

Aku rindu kamu. Rindu seperti apa ? entahlah, rindu seorang teman kurasa. Rindu yang biasa-biasa saja. Bukan rindu menggebu-gebu yang membuatku ingin selalu bertemu. Bukan juga rindu mendebarkan yang membuatku menginginkan pertemuan. Tapi rindu yang membuatku tertawa mengingat hari-hari yang telah dilewati bersama.


“Jangan genit melulu,” cercamu kala itu. Ho ho ho, segenit apakah aku dimatamu ? genit karena banyak teman lelaki yang aku hadiahi senyum ? ataukah genit yang tersirat dari status-statusku yang lugas apa adanya ? tapi itulah kamu, dan semua hal tentangmu yang membuatku makin merindu. Kamu yang apa adanya, mencela, mengejek, memarahiku habis-habisan, melontarkan sekitar seribuan kalimat sinis tentang sikapku yang selalu salah di matamu. Namun disanalah kutemukan kehangatan itu. Aku dan kamu, kamu dan aku, kita bagaikan Tom and Jerry, tampak saling tak suka namun sesungguhnya saling menyayangi.


Aku nyaman bersamamu. Ketika kita berbincang dengan banyak orang bersama-sama dan kau membisikiku di belakang mereka, “Ini gak asyik. Kita jauh lebih asyik..” aha ! dan kamu memonopoli waktuku dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga tak terasa bulan kedua kita lalui. Tanpa sadar, kau telah memiliki waktuku jauh lebih banyak dari siapapun. Tapi monopoli ini adalah monopoli yang asyik. Monopoli yang akan kurindukan mungkin sekian puluh tahun ke depan.


Perhatianmu sungguh luar biasa. Mencecarku hingga kehabisan udara. Menghujaniku bukan dengan kalimat-kalimat manis yang mampu menekuk lutut para gadis. Kemampuanmu membuatku tertawa saat datang airmata, membuatku tergugu dan hanya bisa membisu. Terbuat dari apakah dirimu ?


Kau dan aku, kita berdua seperti orang yang sedang jatuh cinta. Padahal sungguh tidak. Kau selalu mengingatkanku bahwa kelak, akan datang Petir yang berbeda dari petir-petir yang lain untuk melengkapi hujanku. Petir yang akan membuatku bangun dari mimpi-mimpi masa remaja. “Kau tidak akan kemana-mana. Tetap di sana, bertemu seseorang dan hidup bahagia selamanya. Seperti dongeng masa lalu, tapi kupertaruhkan reputasiku untuk itu,”


Luar biasa betapa kau mampu menularkan sikap optimismu itu kepadaku yang terkadang seperti seorang pesimis sejati. Selalu mengeluh di hadapanmu. Tapi percayalah, hanya di depanmu aku mampu begitu. Karena aku tahu, kamu akan mendengarkan. Ya, cukup dengarkan aku. Tak perlu kita memperbincangkan segala kesakitan itu.


Ingatkah bahwa suatu ketika kau pernah berkata, mungkin kelak kebutuhan kita akan jadi candu ? ketika aku mulai terbiasa mendengarkan bisikan-bisikanmu di telingaku saat aku terbaring dalam sakit. Kuat, kuat dan selalu kuat, begitu bisikmu lembut. Selalu khawatir tentang aku. Mencemaskanku dalam diam. Memperhatikanku dari atas awan tak terjangkau, dengan doa-doa yang berjatuhan dari setiap jemari tangan yang kau tangkupkan sebelum tertidur.


“Kalian terlihat begitu dekat, kalian saling mencintai ?” tanya seorang teman. “Bukankah itu gunanya teman ? menjadi bagian terdekat dari diri kita ? sesuatu yang patut disyukuri setiap detiknya ?” jawabku tanpa ragu. Ya , aku mencintaimu. Aku nyaman bersamamu. Kau tak pernah menawarkan lebih karena kau tau pasti apa yang aku butuhkan dalam hidup ini. Aku butuh teman, dan kau selalu ada saat itu. Masih kurangkah itu ? bagiku, cukup. Sungguh luar biasa.


Ya. Aku tahu kau rindu karena aku juga begitu. Meski bukan rindu yang membuatku tak bisa tidur karena selalu mengingatmu. Bukan rindu yang membuatku cemburu dan gelisah ingin bertemu. Bukan rindu yang membuatku ingin memilikimu seutuhnya hanya untukku saja. Aku menyayangimu dan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Mencintaimu dan membuktikannya di setiap waktuku. Meski katamu aku seolah tak perlu, meski ujarmu aku seolah tak peduli. Tapi tahukah kau, kubawa namamu dalam setiap sujud malamku dan doa-doa panjangku ?


Hujan, senja, purnama, sebaris awan berbentuk sisik, sebuah bintang yang lebih terang dibanding yang lain, lagu-lagu lawas yang kita nyanyikan bersama dengan penuh semangat dan tawa, semua itu mampu membuatku makin mensyukuri kehadiranmu, temanku. Kelak, ketika kita bertemu, akankah kau masih akan memanggilku : TEMAN ?



( Untuk seorang sahabat yang sungguh luar biasa indah, terima kasih. Tetaplah kembangkan sayapmu untukku... )


( Timur Bandung, 05 Juli 2010 )

Itu Kamu

Kita tidak sedang mengikat janji kan, sayang ?
Ketika syair-syair dilantunkan dan suara hati diperdengarkan
Dengan nada paling biru menghancurkan tembok terangkuh
Dan aku hanyut dalam kelam matamu

Kita tidak sedang mengukir rindu kan, sayang ?
Ketika kecupanmu meledakkanku dalam pilu
Dan senyummu meruntuhkan egoku
Hingga aku luruh dalam gigil dekapmu

Kita tidak sedang berpurapura rindu dan jatuh cinta, kan ?
Bermain-main dengan rasa yang entah
Mengendapkan hati pada secangkir kopi pekat
Dan purnama benderang di langit kelam

Sungguh, tak kumengerti apa dan mengapa..
Aku jatuh dalam airmatamu..

Kehidupan Kedua

Kalau kau percaya pada kehidupan kedua,
Percayalah bahwa aku akan menyiapkan diri :
Menunggumu
Hingga kelak kau datang menjemputku
Merenangi waktu hingga kita menjadi riak samudera
Yang tak akan pernah berhenti menerjang gelombang

Di kehidupan itu kelak,
Maukah kau berjanji untuk selalu ada di dekatku ?
Memelukku erat dengan seluruh rindu
Dan janjijanji manis tentang hati yang tak pernah membeku

Di kehidupan itu, nanti ….
Aku ingin memilikimu seluruh raga dan hatimu :
Utuh
Sesungguhnya bukan memiliki, tapi meminjammu
Dari Sang Maha Pemilik rindu
Meminjammu hingga akhirnya kita terpisahkan waktu
Melepasmu dari sisiku sebab jarak kita tak lagi mampu terengkuh

Aku berjanji kelak di kehidupan kedua itu
Aku akan selalu ada di sampingmu,
Kita bercakap hal-hal sederhana : Tentang aku, kamu dan kita
Tentang cita-cita yang akan kita bangun bersama
Tentang rumah kayu di atas gunung, dengan purnama tepat di atas kepala kita
Dengan hujan kadang jatuh di halaman dan memandanginya dari beranda
Dengan kita berpelukan dan tak pernah menangisi kehidupan

Sayang, kalau kau percaya pada kehidupan kedua :
Aku milikmu
Dan bolehkah aku memilikimu ?



( Mungkin aku hanya sedang bermimpi memilikimu, biarkan sejenak aku nikmati mimpi itu dalam secangkir coklat panas dan melihat rupamu dalam uap yang mengepul di udara)


Bandung Timur, 08.08.2010
Bulan di atas langit Ganesha

Ingin Kutulis Namamu

Ingin kutulis namamu,
Di belakang barisan namaku
Kelak, saat bungabunga musim gugur
Jatuh dan perlahan hinggap di pelupuk matamu
serupa senja yang berkilauan

Ingin kutulis namamu,
Di belakang barisan namaku
Kelak, ketika derai hujan jatuh lembut
Membasahi pucukpucuk pinus
Lirih menyelinap dalam beranda kita

Tak cukupkah kau baca gumam hatiku
Saat  kita membelah dingin malam
Menghantarkan kenang membayang
Dan kau pahatkan asa di langit malam
Untuk kemudian kau persembahkan
Di atas altar pengharapan

Ketika angin tak lagi menyapa
Dan malam tak mampu mengeja rasa
Ketika  hujan tak ingin lagi berkelana
Hingga senjapun tampak tak merona

Kelak, ingin kutulis namamu :
Dibelakang barisan namaku

( Timur Bandung, 17.08.2010 )

Puisi Penghabisan

Aku tak lagi percaya pada angin
Yang menghembuskan kabar gembira
Tentang hidupku yang akan baikbaik saja

Aku tak akan pernah lagi percaya pada hujan
Yang berjanji menyejukkan hati
Kala ribuan resah menebar ratusan kupukupu
Dalam sesak nadiku

Aku tak akan lagi meyakini bahwa bulan itu indah
Dan rumah kayu itu akan tetap kokoh berdiri
Karena pada akhirnya, hanya sunyi yang melingkupi

Aku tak lagi berharap pada melodimelodi lirih
Yang menemani malam-malam panjangku
Ribuan bisik yang kudengar ditelingaku
Perlambang dirimu yang selalu hadir di setiap hariku
Seluruh keajaiban yang menebar harum ke penjuru hati
Setiap hitungan detik hingga menit yang kita habiskanbersama
Jutaan bintang yang berkilau acap kali kusebut namamu

Berusaha menamatkan mimpimimpi
Tentang pangeran yang menyematkan cincin di jari
Tentang rumah kayu di pegunungan
Tentang bulan dan hujan yang kutanam di halaman
Tentang hati yang seharusnya tak lagi sendiri

Bahkan tak lagi kupercayai hatiku
Yang menuntunku melihat hingga ke batas cakrawala
Tak lagi kuyakini aku ada
Karena memang aku tak lagi ada

karena .. aku tak ada bila kau tak ada
karena ... aku mencinta

( Bandung, 18.08.10 , tepat 30 hari sebelum ceritaku ditamatkan )


Pelajaran Tentang Cinta

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sebuah lomba penulisan, berisi kisah tentang perjuangan seorang istri Mantan Presiden nomer satu Republik Indonesia, Soekarno. Tulisan ini, saya repost dengan perbaikan di sana sini, tentunya untuk mengenang betapa luar biasanya sebuah cinta yang sebenarnya cinta.



Perjuangan Seorang Istri Mengantarkan Suami Ke Pintu Gerbang Kemerdekaan ( Sekelumit Kisah Tentang Inggit Garnasih, istri Bung Karno )


“Dibalik kebesaran nama seorang lelaki, ada keagungan hati seorang perempuan ….”


Seorang istri, adalah jiwa bagi suaminya, Mata air yang tak pernah kering, Penyemangat yang tak pernah lelah, yang senantiasa berjuang untuk mendorong belahan jiwanya meraih kesuksesan dalam kehidupan. Seorang istri adalah pendamping yang selalu berjalan di sisi dalam setiap perjuangan, sahabat yang senantiasa menyediakan telinganya untuk mendengar, mata untuk melihat dan bibir untuk tersenyum hangat. Ibu yang memberikan kasih sayang dan kehangatan dikala ia lelah dan membutuhkan hati untuk bersandar.

Istri bisa menjadi pendukung terhebat sekaligus musuh terberat bagi suaminya. Tentu kita sangat mengenal komunitas tanpa bentuk yang bernama ISTI ( Ikatan Suami-suami Takut Istri ) dimana seorang istri bisa menjadi momok yang menakutkan bagi pasangannya dikarenakan sifatnya yang pencemburu, gampang naik darah, posesif dan egois. Tentu, sebagai perempuan, saya tidak ingin masuk menjadi bagian dari penyebab terbentuknya komunitas tersebut. Menjadi salah satu sebab mengapa suami menjadi pribadi yang buruk dan pada akhirnya meninggalkan saya karena kehilangan cintanya pada saya.

Sebagai seorang perempuan, tentulah banyak orang yang ingin menjadi perempuan cantik lahir dan batin. Menjadi perhiasan bagi suami dan anak-anak. Menjadi figur yang senantiasa terlihat selalu ada disamping lelaki tercinta, yaitu suami. Untuk itu, senantiasa kita dapat belajar banyak dari perempuan-perempuan hebat yang ada di seluruh dunia. Mempelajari kisah mereka bagaikan membaca lautan ilmu tentang “kesabaran dan kesetiaan” yang tak habis-habis direguk.

Salah satu sosok perempuan hebat yang ada di belakang seorang lelaki adalah seorang perempuan sederhana bernama Inggit Garnasih. Mungkin tak banyak yang mengenal sosok dan kepribadian perempuan yang satu ini selain merupakan nama sebuah jalan yang ada di salah satu sudut kota Bandung yang senantiasa hiruk pikuk oleh kemacetan. Namun nama besarnya terutama pada masa orde lama tak diragukan lagi oleh seluruh bangsa. Bahkan karena perannya itu pula nama perempuan ini pernah diusulkan untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.

 Sejarah perjalanan panjang Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia  memang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan seorang Inggit di sampingnya. Inggit Garnasih, seorang perempuan teramat sangat sederhana, istri lelaki bernama Sanusi yang kerap menghabiskan malam-malamnya bermain bilyar bersama teman-temannya. Ia adalah seorang perempuan setia yang senantiasa mengabdi kepada suami sampai pada suatu ketika datang seorang pemuda yang ingin indekost di rumah mereka, pemuda ini bernama kecil Kusno yang di kemudian hari kita kenal sebagai Soekarno. Sanusi adalah seorang pengusaha kaya yang juga pengurus Sarekat Islam afdeling Bandung yang mendapat rekomendasi dari HOS Tjokroaminoto agar mengayomi Soekarno di rumahnya.

Ketika Soekarno datang dalam kehidupannya, hari-hari Inggit menjadi lebih berwarna. Semangat Soekarno yang menggebu-gebu dalam percaturan politik di Indonesia membuat Inggit selalu tersenyum dan ikut larut di dalamnya. Sejak muda Soekarno memang sudah terlihat bakatnya untuk menjadi orang besar. Ia cerdas, bercita-cita tinggi dan berani. Ketika Sanusi suaminya sibuk di luar rumah mengurusi bisnisnya dan bersenang-senang dengan teman-temannya, Inggit tidak lagi merasa kesepian karena ada Soekarno dan mimpinya tentang Indonesia, tentang penjajahan, semangat perjuangan dan lain-lain yang senantiasa didengarkan oleh Inggit dengan penuh perhatian dan senyum. Inggit adalah sosok pendengar atentif yang dibutuhkan Soekarno. Perempuan itu, dengan mata berbinar, sangat meminati kisah dan pemikiran yang dituturkan sang mahasiswa.

Kala itu, Soekarno masih dalam status menikah dengan Oetari, puteri dari HOS Tjokroaminoto. Namun pernikahan itu tidak berjalan sebagaimana layaknya karena Soekarno lebih menganggap Oetari sebagai adik perempuannya. Bahkan diceritakan bahwa selama pernikahan berlangsung, Oetari belum pernah disentuh dan mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Pada kesempatan itu, Inggit seringkali memberi saran kepada Soekarno untuk bertahan dalam pernikahannya, namun Soekarno pada akhirnya mengembalikan Oetari kepada keluarganya.

Singkat cerita, akhirnya entah siapa yang memulai, tumbuhlah benih-benih cinta antara Soekarno dan ibu kostnya tersebut. Pada suatu malam di Jalan Jaksa, mata hati Soekarno dan Inggit bertemu. Soekarno dengan tegas mengatakan: “Aku cinta padamu”.

Inggit tertunduk malu  sambil memilin-milin ujung kebayanya. Ia jatuh cinta, begitu saja. tanpa kata-kata dan bahasa, namun isyarat mata telah mengatakan segalanya. Semua berlangsung sangat sederhana, namun hal ini nyaris luput dan  terlupakan oleh segenap bangsa. Tak berapa lama, Inggit menghadap suaminya, Sanusi, dan meminta cerai, Soekarno mengaku pada Sanusi bahwa ia mencintai Inggit dan ingin melamarnya. Sanusi mengabulkan karena ia merasa memang pernikahannya tidak bahagia dan kosong. Akhirnya setelah menitipkan Inggit pada Soekarno dan berpesan untuk menjaganya baik-baik, Sanusi resmi menceraikan Inggit. Selang beberapa waktu, menikahlah kemudian Inggit dengan Soekarno yang usianya 15 tahun lebih muda darinya.

Dan saat itulah perjuangan dimulai. Jika Soekarno diibaratkan sebagai api, maka Inggit adalah angin sepoi yang akan menghembus api-api itu menjadi berkobar. Inggit menghibur dikala Soekarno merasa kesepian, menghapus keringatnya ketika Soekarno lelah , menjahitkan kancing-kancing bajunya yang terlepas. Inggit hadir memberikan kehangatan seorang ibu dan seorang istri yang kala itu sangat dibutuhkan oleh Soekarno. Inggit bagi Soekarno adalah selayak Khadijah bagi Muhammad. Bedanya hanyalah, Muhammad tetap setia pada Khadijah hingga istrinya itu meninggal dunia, sementara Soekarno menikah lagi dan dilepaskan oleh Inggit di depan pintu gerbang Istana dan Inggit kembali ke Bandung, merajut hari-harinya yang sepi kembali.

Kesetiaan Inggit patut diacungi jempol. Dalam kamus hidupnya tak ada kata menyerah, Inggit selalu memberi dan tak pernah sedikitpun meminta. Ia berjuang keras mencari nafkah. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno sibuk menyelesaikan kuliah dan berpindah dari satu podium ke podium yang lain, mengaum dan menancapkan kukunya di peta perpolitikan tanah air bagaikan singa yang lapar. Pikiran Soekarno tercurah sepenuhnya untuk pergerakan perjuangan Indonesia, sementara Inggit senantiasa setia menjadi tulang punggung perekonomian mereka. Tak jarang, Inggit mengepalkan uang untuk bekal Soekarno dalam perjuangannya.

Sungguh, cinta Inggit pada Soekarno adalah cinta yang tanpa pamrih tanpa motivasi apapun selain CINTA itu sendiri. Inggit melakukan apapun untuk kehidupan mereka dan membiarkan Soekarno tumbuh menjadi kuat. Ia menemani ketika Soekarno berpidato dan kerap membantu menterjemahkan pidatonya ke dalam bahasa sunda supaya rakyat dari berbagai kalangan dapat mengerti isi pidato tersebut. Inggit bukanlah perempuan berpendidikan banyak. Ia hanyalah sosok sederhana lulusan madrasah dan tidak dapat menulis latin kecuali hanya dapat membaca saja. Namun kekuatannya mendampingi Soekarno disaat-saat tersulit hidupnya patut diacungi jempol. Ia turut ke pelosok-pelosok menemani suaminya berpidato. Bahkan ketika Soekarno dipenjara di Banceuy pun Inggit dengan setia menjenguknya dengan mengajak Ratna Djuami ( anak angkat mereka ). Setiap pagi Inggit dan Ratna Djuami yang masih balita mengantar makanan untuk Soekarno. Empat susun rantang berisi nasi, lauk pauk, lodeh, dan sambal. Juga koran AID De Preangerbode, Sipatahoenan, dan Sin Po. Di balik daun pisang pembungkus kue-kue nagasari yang dibawanya selalu terselip uang logam untuk keperluan sehari-hari Soekarno di penjara dan untuk dibagi-bagikan ke sipir penjaga.


Inggit setia menemani Soekarno yang hidup terlunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende, hingga ke Bengkulu, Inggit tetap hadir. Bagaikan api bagi pelita Soekarno yang nyaris padam karena menderita, ia rela menemani suaminya dalam masa-masa tersulit perjuangannya. Inggitlah perempuan yang selalu berusaha mengingatkan dan menyemangati beliau. Tak ragu perempuan itu menguras tabungan, menjual perhiasan dan segala harta bendanya untuk membiayai segala aktifitas Soekarno dalam dunia pergerakan.

Saat mereka hidup dalam keterasingan di Bengkulu, kemudian hadirlah sosok wanita lain dalam kehidupan suami istri Soekarno dan Inggit Garnasih. Dialah Fatimah, yang lahir pada 5 Februari 1923 dan merupakan putri dari pasangan Hassan Din dan Siti Khatidjah. Ketika itu, Fatimah seringkali bermain ke rumah Soekarno di Bengkulu karena ia merupakan teman bermain Ratna Djuami (Omi), anak angkat suami istri tersebut. Saat itu, Inggit memiliki satu kekurangan yang menjadi sebuah pukulan telak baginya. Inggit tidak mampu menghadirkan keturunan bagi Soekarno. Inggit adalah seorang perempuan mandul. Walaupun saat itu Soekarno dan Inggit memiliki dua anak angkat ( Ratna Djuami dan Fatimah ), Soekarno tetap menginginkan keturunan langsung dari dirinya. Sayangnya hal itu tak mampu diberikan oleh seorang Inggit Garnasih.

Saat itulah, nama Fatimah terbersit dalam pikiran Soekarno untuk menjadi solusi bagi keinginannya memperoleh keturunan langsung tersebut. Beliau lalu mengajak Fatimah untuk menikah tetapi Fatimah menolak untuk dimadu. Begitu juga ketika Soekarno berkata ingin memadu Inggit, dengan tegas Inggit menolak keinginan tersebut.

“Enggit, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.” Ungkap Soekarno.

“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.

“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Menjadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”

“Tidak, pulangkan saja aku ke Bandung,” jawab Inggit lagi.

“Tidak mungkin aku menceraikan kamu, Enggit. Tidak mungkin. Bukankah bisa aku mengawininya sementara kita tidak bercerai?”

“Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu!” (Oh, dimadu? Kalau mesti dimadu, pantang!)

Demikianlah sekelumit dialog antara Soekarno dan Inggit pada waktu itu . Inggit mengijinkan Soekarno untuk menikah lagi dengan Fatimah, tetapi ia meminta untuk diceraikan terlebih dahulu. Inggit Garnasih lebih memilih merelakan diri untuk bercerai dengan Soekarno daripada harus dimadu oleh Soekarno. Dia merelakan segala kesempatan menjadi seorang first lady bagi bangsa Indonesia.

Akhirnya, Soekarno mengembalikan Inggit kepada keluarganya melalui sebuah pertemuan keluarga yang dingin dan kaku di Bandung. Soekarno menceraikan Inggit dan mengantarnya kembali tinggal di Jalan Ciateul Bandung, sementara Soekarno kembali ke Jakarta dan pada tahun 1943 menikahi Fatimah yang saat itu telah diberikan nama baru olehnya yaitu Fatmawati. Kepergian Soekarno dilepas oleh Inggit dengan doa dan harapan ketika proses perceraian itu usai. Doa itu berbunyi : “Selamat jalan dan semoga selamat dalam perjalanan”.

Saat itu, Inggit sama sekali tidak mengeluh dan menangis. Cinta Inggit kepada Soekarno sedemikian besar, semata-mata karena cinta, tulus ikhlas tanpa pamrih. Ia tidak terluka ketika dilukai dan tak merasa sakit saat disakiti.
 Dalam kesepiannya, ia senantiasa berdoa bagi Soekarno yang akhirnya menjadi Bapak Bangsa. Doa yang tak henti-henti dipanjatkannya sepanjang sisa usia.

Begitulah, hanya ada satu perempuan seperti itu, Inggit Garnasih. Ia telah mengantarkan Bung Karno ke gerbang kemerdekaan dengan kesabaran dan kesetiaannya selama 20 tahun. Meski telah bercerai, rupanya ia tetap memiliki rasa sayang dihatinya untuk mantan suami yang biasa ia panggil dengan nama kesayangan, 'Engkus'. Bahkan ketika Soekarno wafat, dengan tertatih-tatih Inggit yang saat itu sudah berusia sangat lanjut datang ke rumah persemayaman terakhir Soekarno dan memberikan doa terakhirnya. “Ngkus, geuning Ngkus the miheulaan, ku Nggit didoakeun..” ( Ngkus, ternyata Ngkus mendahului, Nggit mendoakan, Red )




[“Yang lalu sudahlah berlalu, aku telah mengantarkan Kusnoku, Kasepku, Kesayanganku, Fajarku ke gerbang kebahagiaan, gerbang cahaya yang dari dulu diimpikannya.”] (Perempuan Dalam Hidup Sukarno, Biografi Inggit Garnasih, Reni Nuryanti)








Inggit Garnasih Sebagai Seorang Inspirator

Sebagai seorang istri, tentulah saya mesti banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Bukan untuk menjadi istri yang sempurna, tetapi menjadi sosok yang dapat menyempurnakan lelaki yang saya dampingi hingga menjadi lengkap paripurna. Sosok Inggit Garnasih menjadi salah satu dari sosok seorang perempuan, seorang istri yang menjadi panutan saya dalam proses pembelajaran tersebut.

Bahkan inspirasi yang mengalir dari seluruh kisahnya sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup yang harus saya tempuh. Ketika saya menikah pertama kali pada tahun 2000 dengan seseorang yang berusia 15 tahun lebih tua, saya belajar bagaimana tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang perempuan pendamping suami. Saya dan suami ( saat ini sudah menjadi mantan ) benar-benar memulai segalanya dari nol. Kehidupan yang harus kami lalui di awal perkawinan begitu sulit dan menguras pikiran juga tenaga. Saat itu (mantan) suami saya masih harus menganggur karena baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dimana masa-masa itu adalah masa paling mengharukan bagi saya, karena sebagai istri dan pendamping setia saya dituntut untuk memutar otak bagaimana caranya supaya kehidupan kami dapat terus berjalan dengan kondisi yang memprihatinkan seperti itu.

Saya yang saat itu dalam kondisi mengandung anak pertama, harus membantu suami mencari solusi terutama dalam hal perekonomian. Saat itu ( mantan ) suami seringkali merasa dirinya terpuruk karena gagal menghidupi kami, tapi saya tidak kecewa. Saya menjual koleksi buku-buku yang saya miliki ke loakan buku bekas dan menggunakan uangnya untuk makan dan memeriksakan kandungan ke bidan. Setiap kali memperoleh uang baik itu dari pemberian keluarga besar atau dari hasil usaha kecil-kecilan, saya sisihkan semuanya untuk membantu ongkos suami mencari pekerjaan. Saat itu prinsip saya adalah yang terpenting kami bisa hidup tanpa menyusahkan orang lain, dan tanpa berhutang apapun kepada orang lain. Ini berlangsung dalam 4 tahun pertama pernikahan kami.

Setiap kali jiwa saya merasa lemah, buku “Kuantar Ke Gerbang” (satu-satunya buku yang saya pertahankan) selalu saya baca dan baca lagi. Tak bosan saya mengagumi sosok Inggit yang begitu kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan yang beribu-ribu kali lipat lebih berat dari saya. Dan saat itulah semangat saya bangkit kembali. Saya BISA dan harus BISA !

Sampai pada akhirnya, roda kehidupan membawa saya dan ( mantan ) suami ke kehidupan yang lebih layak. Perlahan tapi pasti karirnya mulai menanjak dan kami mulai memperoleh apa-apa yang selama ini hanya dapat kami bayangkan saja. Namun disaat itu pula terjangan lain datang dalam kehidupan kami dan jauh lebih berat dari yang sudah-sudah. Saya berjuang keras mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik saya, hak saya, namun ternyata nasib berkata lain. Saya harus ikhlas melepas suami saya menjalani kehidupannya sendiri, tanpa saya ada disampingnya. Kami bercerai justru ketika suami saya ada pada awal kejayaannya. Ikhlas, hanya itu kunci yang saya pegang senantiasa, pun ketika pada akhirnya saya dan kedua anak saya mesti menjalani kehidupan ini bertiga dan berjuang kembali dari titik nol.

Seringkali saya tersenyum jika mengingat betapa kehidupan yang saya alami nyaris mirip dengan Inggit, sang tokoh panutan. Melepas suami kami di gerbang kemerdekaan. Menatap mereka dari kejauhan dengan doa dan harapan, “… Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan….”.

***

( sayangnya tak ada biografi atau biodata Inggit Garnasih yang dapat ditemukan dalam literature-literatur di Indonesia )




DAFTAR PUSTAKA
  1. Kuantar ke Gerbang: kisah cinta kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981), Ramadhan KH
  2. Ruang baca koran tempo online, ulasan : Kesetiaan Perempuan Di Sekitar Soekarno, http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwNw%3D%3D&dokm=MDQ%3D&dokd=Mjk%3D&dig=YXJjaGl2ZXM%3D&on=VUxT&uniq=NDY4
  3. Keluarga Presiden, http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/family/idx.asp?box=detail_family&from_box=list_family&id_family=21&hlm=1&presiden=sukarno&search_ruas&search_keyword&submenu=family&activation_status
  4. Inggit Garnasih Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, http://nasional.kompas.com/read/2008/12/17/20412474/Inggit.Garnasih.Diusulkan.Jadi.Pahlawan.Nasional
  5. Pengantar Bung Karno Ke Gerbang Kemerdekaan, http://rosodaras.wordpress.com/tag/inggit-garnasih/
  6. http://penakisemar.wordpress.com/2009/10/20/buku-harian-inggit-garnasih-1/
  7. http://rosodaras.wordpress.com/tag/inggit-garnasih/
  8. http://cak-faris.blogspot.com/2009/04/inggit-garnasih-dan-fatmawati-antara.html


(Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Words Share Contest Inspirational Public Figure

Sepanjang Perjalanan

Sepanjang perjalanan ini, Rautmu tergambar di pelupuk
Rindu yang tak tereja
Menggenang manis dalam sisa hujan sore ini
Langutkan aku dalam melodimelodi panjang
Tentang harap dan keabadian..

Sepanjang perjalanan ini, Senyummu menjelma cahaya
Menembus kedalaman jiwa yang nanar meraba jarak
Entah ribuan kilometer atau hanya sejengkal menembus hujan :
Menghampirimu

Sepanjang perjalanan ini,
Derak roda kereta menghantarkan derai kenangan
Membasahi tepian jendela dengan lamunan
Namamu ada dalam sisa es teh di hadapan,
Rautmu menjelma dalam riuh lalu lalang lautan manusia
Sosokmu nyata dalam jarak pandang

Dan sepertinya,
Kau ada : Sepanjang Perjalanan Ini ....

Betapa Ingin

Betapa ingin separuh sayap ini kuberikan padamu
Agar kita dapat terbang berpelukan menembus cakrawala
Tentu kita akan melesat ke satu arah yang sama
Tempat yang penuh pelangi, sinar bulan , manisnya hujan dan hangat mentari

Betapa ingin separuh nafas ini kuhembuskan padamu
Agar kita dapat menghirup udara yang sama
Udara yang penuh aroma bunga tanjung hingga melingkupi seluruh tubuhku
Nafasmu dalam nafasku....

Betapa ingin separuh hati ini kupersembahkan padamu
Agar kita dapat merasakan hal yang sama
Keinginan menyatu dalam keabadian temaram senja yang membenamkan kita
Dalam puisi panjang tentang cinta

Betapa ingin separuh jantung ini kuhadiahkan padamu
Agar kau dapat merasakan degup yang sama , detak yang mengeja waktu
Meniti selaksa irama indah tarian rembulan
Terbang..terbanglah kita dalam keheningan….

Betapa ingin separuh cinta ini kubagi bersamamu
Karena bukankah seharusnya kita saling memiliki
Ketika hari beranjak senja, saat langkah tertatih melepas lelah
Dengan tanganmu menggenggam jemariku erat dalam kesunyian
Kita berlari dan menari laksana gila menikmati kebahagiaan
Melukis dunia dengan bungabunga musim semi
Kita tertawa dan menangis, tertawa dan menangis

Ah, Betapa ingin separuh hidup ini kutamatkan bersamamu
Mencintaimu lebih dari yang bisa kujanjikan
Menyamankanmu yang tersudut diam
Menyalakan pelita , menemani jutaan langkahmu yang terjejak
Kadang langkah kita terantuk kerikil dan kita terjatuh
Namun tak kita rasakan sakit itu
Merasakan angin dan hujan menelusup masuk dalam jiwa
Yang terkunci bersama-sama

( Timur Bandung, 24.09.10 )




Cahaya Lentera

Rumah itu tampak sepi dari luar. rumah mungil yang hanya berisi tiga orang. Sekilas sunyi tapi kehangatan menyeruak dari dalam rumah berpagar bambu sederhana itu.

“Bunda, Tera mau ketemu Ayah”. Lentera, 10 tahun merengek manja pada ibunya.

“Iya, Bunda. Aku juga mau”, sahut Cahaya adiknya yang hanya selisih 2 tahun.

Sang bunda menghela nafas panjang.

“Bunda bukan tak membolehkan kalian bertemu ayah, sayang.. tapi waktunya belum tepat”.

Jawaban bunda kali itu rupanya membuat Lentera dan Cahaya kecewa. Dengan segera mereka memasang muka cemberut. Cahaya tampak menggemaskan dengan pipi chubby nya yang makin bulat ketika ia cemberut. Bunda ingin tertawa kalau saja ia tidak ingat bahwa mereka sedang berbincang hal penting. Buru-buru dipasangnya wajah serius.

“Halooo, kenapa kalian cemberut begitu ? sedih ya ? Nanti kalian juga akan bertemu ayah suatu saat kelak”, Bunda mengacak-acak rambut Lentera dengan sepenuh sayang.  Kemudian dijawilnya pipi montok Cahaya.

“Tera mau sekarang. Tera mau minta dibeliin baju baru sama ayah. Tera juga mau nunjukin kalau nilai raport Tera bagus, Bunda.”

Kali ini Bunda menatap lekat wajah anak-anaknya. Sekecil itu mereka sudah tidak mengenal sosok ayah. Mas Indar kabur dengan wanita lain ketika anak-anak balita. Sekarang lentera sudah kelas 6 SD dan Cahaya kelas 4.

Sekali lagi bunda menghela nafas dan kali ini menatap layar HP di genggamannya. Sebaris pesan singkat memenuhi layar telepon genggamnya itu.

“saya minta kalian jangan pernah ganggu keluarga saya lagi. Mas Indar sudah berkeluarga. Saya gak mau harta suami saya habis digerogoti oleh kalian. Lagipula, anak-anak itu bukan anak-anak saya. Jadi tolong jauhkan mereka dari suami saya.”

Ada yang meleleh memanas dari mata bunda. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, Lentera dan Cahaya mulai menangis.

Refleksi Hidup

Hidup memang luar biasa. Unpredictable. Kita bahkan tak tahu kaki kita akan melangkah ke mana esok hari. Waktu, bahkan terkadang mencandai kita dengan menyembunyikan realitas dalam lipatan-lipatannya.

Akan bertemu siapakah kita esok hari, bulan depan, atau tahun depan ?Akan mengalami kejadian apakah kita kelak di kemudian hari ?


Apakah segala cobaan yang kita hadapi saat ini adalah cobaan terberat, ataukah justru hanya kerikil kecil
sementara di depan sana bisa jadi akan ada cobaan yang jauh lebih dahsyat untuk kita.
We never know.

Hidup memang penuh kejutan. Dengan awal dan akhir yang sama sekali TAK PERNAH terduga. Seperti hujan yang tak tahu kapan harus berhenti membasahi bumi, kita juga tak tahu mau jadi apa kita kelak, akan ada di mana, dan apa kontribusi yang pernah atau akan kita lakukan untuk sekitar kita.

Bagaimana cara kita menghadapi sebuah kejutan ? Kalau kita tidak siap, kita akan sangat terkejut. Mungkin shock, dan bahkan mengalami hal yang lebih parah,misalnya depresi,  hanya karena kita tidak siap menghadpi kejutan itu.

Jadi, bersiaplah..Pergilah menghirup udara segar dan perhatikan hal-hal kecil disekitar kita. Kemudian, mulai saat ini kita persiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Bersiap menerima realita bahwa terkadang hidup tak dapat berkompomi dengan kita. Kita boleh lemah dan terjatuh, namun waktu tak akan menunggu kita hingga kita menjadi kuat.

Ah, selamat pagi... Mari kita mulai nikmati hari dengan secangkir teh, kopi atau coklat panas. Apapun pilihan kita, akan selalu ada kejutan disetiap teguknya.


Ah, hidup memang luar biasa indah. karena hidup selalu mempunyai cara terindah untuk kita menjadi kuat. Terima kasih, sahabat. Karena telah menemaniku menghadapi setiap kejutan dalam perjalanan ini.




NB : Setiap kita adalah MOTIVATOR bagi diri kita sendiri...


*terkantuk2 di atas elf dalam perjalanan menuju Majalengka*

Aku Seputik Bunga

Dear Lelaki Tak Bernama,

Siapapun dirimu, dimanapun kau berada, tahukah kau di sini aku menunggumu ? Mungkin kita belum pernah bertemu, mungkin pula kau terlahir di benua yang berbeda. Tapi bukan tidak mungkin sesungguhnya kita pernah dipertemukan oleh garis takdir. Entah itu di taman kota, tempat aku biasa duduk sendiri menatap mendung yang bergulung, ataukah di café di mana aku biasa menghabiskan malam-malam tak bertepi sambil menikmati secangkir coklat panas ?

Aku meyakini bahwa setiap makhluk bernyawa memilik takdirnya masing-masing yang harus tergenapi sebelum perjalanan panjangnya harus berakhir di halte penghabisan. namun aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Seperti putik bunga, aku membiarkan sang angin menerbangkanku kemana pun ia suka dan aku menunggu di manakah aku akan berakhir. Di padang pasir yang gersang kah ? Kebun yang sangat indah ? Taman kota yang sesak ? ataukah di surga ?


Dear Lelaki Tanpa Rupa,

Kemanapun aku diterbangkan oleh takdir, aku berharap kelak di sana aku akan menemukanmu. Berdiri di sudut terindah, menanti kehadiranku. menyambut kedua tanganku dengan suka cita dan airmata.

Dimanapun itu, aku tak ingin bermimpi. mungkin bukan saat ini, karena Tuhan sedang mempersiapkan kita, Sayang... Mempersiapkan kita untuk menjadi potongan puzzle yang tepat bagi satu sama lain.

Tuhan sedang menyiapkan takdirmu, juga takdirku. Ia ingin aku menjadi perempuan yang kuat, tegar sekaligus lemah lembut dan sabar, untukmu. Dan ia juga sedang menempamu menjadi lelaki hebat yang memiliki cinta dalam setiap denyut nadimu, tak lupa diberikan-Nya untukmu kekuatan ekstra yang kelak akan membuatmu menjadi lelaki yang siap melindungiku dan anak-anak kita hingga penghujung masa.


Dear Lelaki Entah Di Mana,

Meski keyakinan ini sedemikian kuat bahwa pasti kelak kita akan dipertemukan oleh-Nya, namun aku tak bisa berkelit dari rasa, tak bisa mungkir dari pikir. Aku merindukanmu ! Teramat sangat merindukanmu, lelaki tak bernama, tak berupa dan entah di mana....

Seringkali kubiarkan anganku terbang melayang, tak ingin kutangkap dan kukembalikan ke tempat di mana ia seharusnya berasal. Kupandangi anganku mengikuti awan, hinggap di pucuk-pucuk pinus yang harumnya kuhirup seketika.

Aku ingin anganku menunjukkan di mana engkau berada. Bukankah angan tak terhalang ruang dan waktu ? Ia dapat mencarimu dalam radius ratusan kilometer sekalipun. ia dapat mengenali harum tubuhmu di antara keramaian.

Sudahkah kau lihat anganku ? Sampaikah ia ke hadapanmu ? Apakah ia menyampaikan semua pesan yang kurangkai dalam setiap doa di malam-malam panjangku untukmu ?


Dear Lelaki Yang Ditanganmu Tuhan Ikatkan Benang Merah Yang Tersambung Ke Jemariku,

Sesungguhnya aku marah padamu. Mengapa kau menunggu terlalu lama untuk menjemputku ? Dimanakah kau ? Tidakkah kau mampu mendengar jeritku yang meminta pertolonganmu ? Aku membutuhkanmu, mengajariku banyak hal di dunia dengan cinta, kesabaran tanpa batas, ketegasan yang lembut, dengan tangan yang selalu sigap membantuku kala ku terjatuh, dengan hati yang selalu siap berbagi, dengan senyum yang terukir senantiasa, dengan kebijakan brahma yang wibawa.

Sungguh terlalu ku kesal padamu. yang entah ada di mana ketika aku mengalami ujian demi ujian berat seorang diri. Tidakkah kau ingin mencari tahu bagaimana nasib belahan jiwamu di sini ?

Aku butuh kamu di sini, saat ini. sebelum aku terjatuh ke ruang-ruang gelap lebih dalam lagi. Tariklah tanganku, bawa aku ke tempat di mana tak ada lagi airmata selain air mata kebahagiaan.


Dear Lelaki Yang Bahunya Seharusnya Menjadi Tempatku Bersandar,

Aku ingin mengabdi padamu, dengan cinta yang tak terukur, dengan hati yang tak bisa dinilai hanya dari luar. Mampukah kau membacaku  ? membaca yang tak terlihat, merasakan apa yang tak teraba, menyerap seluruh rapuh, perih, sakit, kecewa dan sedih ini ?

Sudahkah Tuhan mempersiapkanmu untukku, seperti ia yang telah menempaku untuk kelak mendampingimu ?


Dear Lelaki Belahan Jiwaku,

Temukanlah aku.... aku menunggumu.




Aku ingin cinta yang sederhana
Bukan cinta bertabur mimpi semu
Dihiasi seribu dusta

Aku ingin cinta yang anggun
Tak lelah saling mencari makna
Di antara tatap penuh kasih
Senyum tulus penuh hasrat
Di antara genggaman erat pada jemari

Aku ingin cinta yang terus menerus
Coba selalu terus nyalakan api
Agar tak hilang panasnya
Agar senantiasa terjaga hangatnya

Menatapmu dalam lelap
Duduk bersama di beranda
Ketika hari beranjak senja
Menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa
Bersama, berdua
Susuri jalan tanpa jeda…

Aku ingin seseorang yang kuat
Menghadapi cobaan hidup yang berat
Seseorang yang tepat
Yang hatinya tak berkarat
Tak ingin meminta banyak
Hanya satu dari yang terserak
Hati yang seluas samudera
Menggenggam tanganku
Bersama-sama, senantiasa…

THE END

Menatap Senja Hanya Berdua

You're The Yin To My Young

Menjadi Single Parent, Kenapa Harus Takut?

Siapapun orangnya,tak mungkin ada yang mau jadi single mom. Aku sangat yakin tentang hal itu. Jadi, persoalan seseorang itu pada akhirnya menyandang status single mom atau tidak,  bukan hanya sepenuhnya karena keputusan dia sendiri, melainkan juga karena campur tangan Tuhan. Intervensi yang tak terbantahkan dari Sang Maha Sutradara.

Ketika buku A Cup of Mom for Single Mom terbit, buku ini menjadi buku yang luar biasa buatku. Selain karena memang ini bisa dibilang buku pertamaku yang terbit, juga karena buku ini memang BBB, Bukan Buku Biasa. Buku ACOT-SM adalah buku yang proses kelahirannya penuh airmata ( ha ha lebay). Ya, karena sejak 2 tahun sebelum buku ini lahir, aku sudah memimpikannya setiap kali aku melamun memandangi hujan. Impianku adalah, kelak aku harus menulis buku, tentang kisah-kisah para single mom dan buku itu harus diberi nama A Cup of Tea for Single Mom ! Mengenai proses dan sejarah ACOT lebih lanjut, nanti diceritakan di note terpisah ya :).

Yang ingin aku tuliskan di sini adalah, kisahku di buku itu luar biasa buatku. "Petir Yang Menyambar Dalam Hidupku" adalah judul tulisan yang aku masukkan di sana. aku menceritakan perjalanan hidupku selama bertahun-tahun menjadi seorang single mom, yang kenyang oleh rasa trauma. Pernah disakiti secara fisik oleh mantan suami hanya karena cemburu yang memang tak beralasan hingga diilecehkan oleh banyak lelaki yang menganggap bahwa seorang Single Mom itu adalah makhluk kesepian yang bisa dimanfaatkan oleh mereka. Hei Bung, Kau salah orang !

Dan kisahku di buku itu tamat ketika aku memutuskan untuk membuang rasa trauma, melemparnya ke balik gunung Manglayang dan memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki single parent yang memiliki 5 orang anak. pertimbangan pertamaku memilihnya adalah, karena kelima anaknya butuh kasih sayang ibu, setelah ibu mereka meninggal dunia karena penyakit kanker. Pertimbangan kedua adalah karena aku lelah berjalan sendirian bertahun-tahun. Dengan niat ibadah, dan menyayangi kelima anak piatu itu, aku yakin aku akan menjadi ibu yang baik bagi mereka. Bismillah perjalananku pun kembali kumulai.

Namun siapa pernah menyangka -bahkan dalam mimpi pun aku tak pernah membayangkan- bahwa perjalanan itu harus terhenti kurang dari enam bulan. Aku shock, apa yang salah ?  orang yang kukira tadinya adalah petir yang mampu menyambarku, ternyata hanyalah sebuah kilatan tak bermakna. Dia pergi begitu saja meninggalkanku tanpa kata, tanpa pesan, seolah aku ini hanya seonggok barang yang tinggal dibuang begitu sudah tak terpakai.

Banyak sahabat dan keluarga mendukungku, Mereka sangat tau bahwa aku tak layak diperlakukan sperti itu, setelah apa yang telah kuperjuangkan selama ini. Tak sedikit pula yang mencibir ke arahku, dan seolah berkata, "Apa gue bilang, pilihan lo salah kan ?"

Ya, aku memang menangis kala harus kembali ke Bandung sendirian. Dan sungguh luar biasa, Tuhan mengirim HUJAN untuk menemani perjalananku. ya, hujan turun sangat deras sejak awal aku berangkat pulang ke Bandung, Sederas air mata, sepilu hati dan sesakit nyeri ini.

Malam itu aku menangisi semua. Menangisi kelima anak yang terpaksa harus terpisah dariku padahal aku sangat menyayangi mereka seperti dua anak kandungku. Bahkan salah satu anak terkecil sempat menangis dan memelukku ketika aku pamit padanya. Hingga berminggu setelahnya, aku nyaris tiap malam bermimpi buruk dan terbangun dengan keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh.

Aku biarkan airmata itu mengalir berhari-hari. Namun kemudian, 4 hari setelah aku kembali ke kota di mana anak-anakku berada, aku berhenti menangis. Kubuka jendela dan menghirup segarnya udara pagi berkabut di kota Bandung. Hidup terlalu indah untuk dijalani dengan menangis dan menyesali diri.  Sakit, tapi gak ada jalan lain selain tersenyum dan berterima kasih pada Allah. karena setiap benturan itu membuatku jadi semakin kuat dan lebih kuat menghadapi hidup.

Sekarang, setiap anak2ku berkata, "ibu, kita mau punya bapak.." aku cuma menjawab, "ibu bisa menjadi bapak buat kalian anak2ku, kita gak perlu menambah satu orang lain masuk dalam kehidpan kita kalau hanya utk menyakiti hati kita. bersabarlah.. ibu akan berusaha utk menjadi ibu sekaligus bapak terbaik."

Saat ini bekerja dan terus bekerja adalah pelarian terbaikku selain selalu berkencan dengan Sang Maha Kasih di malam-malam panjang yang kuhabiskan sendirian. Being a single mom, bukan aib yang pantas membuat diri kita malu dan merasa rendah diri.

Being A Single Mom, tak harus dijalani dengan tangis. Tuhan adalah Guru terbaik. Ia selalu menyelipkan kunci jawaban di setiap ujian yang Ia berikan kepadaku. Hanya aku harus selalu peka mengeja tanda dan membaca yang tak terlihat, agar aku senantiasa dapat menemukan dimana kunci jawaban itu berada.


Huffffh.. buku A Cup of Tea For Single Mom begitu menguras airmataku bahkan hingga detik ini setiap kali aku melihatnya. Bukan tangis penyesalan. hanya tangis yang mengiringi kalimat-kalimat lirihku, "hidupku memang luar biasa, Ya Allah... U're the best".

Dan buku kedua, A Cup of Tea for Complicated Relationship, pada akhirnya harus membuatku mengharubiru (lagi) ketika menuliskan kisahku di dalamnya. Whuaaaaaaaaaaaaaaaaa......Penasaran ? ini sekelumit kisah yang kutulis di buku itu :

                                                      *************************************

Hening, kupakukan pandang pada awan yang bergulung hitam. Rasanya awan itu tampak semakin berat saja dan siap menjelma menjadi hujan yang cantik. Entah sejak kapan kucintai hujan itu layaknya diriku sendiri. Mungkin sejak aku sadar bahwa hujan adalah tempat yang tepat bagiku untuk menangis tanpa diketahui orang lain karena airmataku tersamarkan olehnya, mungkin pula karena banyak momen terpenting hidupku terjadi pada saat musim penghujan seperti ini.

            Seperti kali ini. Aku mengalami guncangan batin yang hebat, atas nama cinta. Cinta yang seringkali kutolak hadirnya, namun selalu memaksa menyeruak masuk hingga ku tak mampu berkutik dan menyerah pada takdir. Peristiwa besar dalam hidupku yang lagi-lagi terjadi di kala hujan lebat. Pengkhianatan cinta. Suami,  yang seharusnya menjaga dan melindungiku, tiba-tiba menghilang tanpa kata. Layaknya seorang pengecut yang lari terbirit-birit dari gelanggang pertarungan. Seolah ingin menyempurnakan kesedihanku kala aku melepas kepergian adik ke tempat peristirahatan terakhirnya, yang lembab dan basah oleh air hujan. Seolah ingin menggenapkan rasa kehilanganku ketika kedua orangtuaku terpaksa harus berpisah –lagi-lagi atas nama cinta- setelah puluhan tahun berusaha menjadi sosok terbaik dalam kehidupanku.

            Aku menghapus airmata yang meluruh. Tak ingin menjadi cengeng hanya karena cinta. Hidup di depan sana yang harus kuperjuangkan memaksaku untuk bangkit dan kembali berjalan melawan nasib. Aku berontak. Aku terluka. Aku tak ingin tersakiti lagi untuk yang kesekian kali.

            Lelaki itu datang ketika aku nyaris tak percaya akan sebentuk rasa yang bernama CINTA. Lelaki itu berdiri di tengah amarahku. Tenang, tak bergeming meski awan panas yang siap kusemburkan sewaktu-waktu bisa saja meluluhlantakkannya. Ditatapnya aku  dengan mata yang penuh senyum dan menawarkan kedamaian.

“Aku terluka oleh janji yang terkhianati, “ menangislah aku di hadapannya.

Namun lelaki itu –lagi-lagi- hanya tersenyum. Ia merengkuhku dalam hangat senyumnya.

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu, takkan pernah mengkhianatimu, hingga kelak senja menua di hadapan kita, dan malam-malam pekat yang akan kita bagi bersama takkan mampu menyeret kita ke dalam pusaran waktu.”

Aku pun luluh. Hatiku sedemikian penuh luka, hingga rasanya aku masih sanggup menempatkan satu luka lagi di antaranya jika kemudian lelaki itu mengingkari janjinya. Biarlah, sekali ini aku bertaruh dengan takdir, bisikku.

                                                  ************************************************

TESTIMONI untuk buku "A Cup of Tea for Complicated Relationship"

“A Cup Of Tea for Complicated Relationship bagi saya adalah sebuah buku yang mampu menjadi refleksi akan kehidupan percintaan anak manusia yang penuh dengan rasa: suka, duka, gembira, kecewa, bahagia dan putus asa.. Buku ini informatif karena memberikan contoh hal-hal yang harus dihindari dalam "bercinta" dan inspiratif karena buku i...ni juga menyuguhkan nilai-nilai positif dalam "bercinta". Word of advice: just sit back, relax and enjoy your cup of tea!”

(Olla Ramlan – Artis, Model, Socialite)

<p> </p>Buku ini ibarat sungai yang gak akan membuat kita terlarut seperti gula yang lebur jadi manis dalam aliran ceritanya. Kita akan jadi sosok utuh yang dibawa mengaliri setiap arus dan jeram cerita yang memiliki liku dan panorama yang berbeda. 20 hulu yang berakhir di satu titik hilir, cinta. Tentunya semuanya menarik dengan arus dan likunya masing-masing. Nikmati setiap ceritanya.<p> </p>( Fitri Tropica - Artis, Host dan Penulis Buku "Kening ")<p> </p><p> </p>"Membaca cerita-cerita dalam buku ini membuat saya teringat dengan kisah-kisah saya sendiri, dan tersadar, cinta tidak melulu soal bahagia, tapi bisa jadi pelajaran berharga yang dititipkan melalui orang yang pernah singgah di hati kita. Jangan putus asa dengan cinta!"<p> </p>(Ollie - Penulis dan Founder online self publishing NulisBuku.com)<p> </p><p> </p>“Membaca buku ini kita merasa tidak sendiri, serasa ada sahabat yang hangat dihati, yang penuh semangat membantu mengambil pilihan untuk keluar dari masalah”<p> </p>(Ninuk Retno Raras – Penulis dan Pemerhati Perempuan)<p> </p><p> </p>"Dengan membaca kisah-kisah di novel ini, kita akan merasa bahagia dan bersyukur dalam waktu bersamaan. Bahagia karena ternyata kita tidak sendirian yang punya kisah cinta menyakitkan. Bersyukur karena apa yang sudah kita punya sekarang sangat luar biasa!! This book makes you feel in good”<p>(Manik, Vocalist La Luna, Penyiar Hardrock FM Bandung)</p><p> </p>



A CUP OF TEA FOR COMPLICATED RELATIONSHIPA CUP OF TEA FOR

Seribu Maaf Dariku

Dear, Sayang ...

Sudah lima malam aku selalu terjaga hingga jelang pagi. Hanya sempat tertidur barang 1-2 jam untuk kemudian kembali bangun dan melakukan rutinitas persis seperti malam sebelumnya. Menggendong, mengompres, mengganti diapers setiap dua jam sekali, menyuapi obat dan memasukkan ASI pipet demi pipet ke dalam mulut mungilmu agar dirimu tidak dehidrasi. menyenandungkan shalawat plus dzikir pagi dan sore. Begitu terus, dari waktu ke waktu. Bahkan untuk sekadar beristirahat di sela waktu tidurmu pun aku tak lagi sempat, karena justru ketika kamu tertidur, saat itu pulalah aku bisa mencuri waktu untuk kembali menghadap layar laptop dan mencoba menuntaskan segala pekerjaan yang sudah mepet deadline. Meski, sungguh sulit melakukannya. Karena baru saja tangan ini hendak mengetikkan kata demi kata, kau menggeliat dalam tidurmu dan kembali merengek. aku pun harus meninggalkan segalanya dan kembali ke sisimu, sekadar membetulkan letak selimut atau menyenandungkan lagu kesayanganmu.

Dear, Sayang ...

sungguh, aku tak hendak mengeluh atau jenuh.
Karena aku tahu, hanya akulah satu-satunya sahabatmu di saat seperti ini. Menatapmu yang meredup, kuyu dan layu, ada perih menjelma nyata dalam hatiku. sungguh, aku berharap sakitmu berpindah padaku. Namun tidak, sebetulnya bukan itu yang kuharapkan. Aku hanya mengharap kita SEHAT. Sehat, agar senantiasa dapat terus berpegangan tangan dalam diam. Berjuang bersama seperti sediakala. Aku rindu padamu, sayang. Rindu melihatmu tertawa ceria seperti seminggu yang lalu.

Ketika panasmu tak kunjung reda di hari kelima, aku membawamu ke dokter. membungkus dirimu dalam selimut tebal dan seperti biasa, kita berangkat membonceng ojeg. panasmu bahkan sanggup menebus tebalnya selimut dan kurasakan hingga ke tulang sumsum. Maafkan aku, sayang. aku tak bisa membawamu ke tempat yang jauh lebih layak. melihatmu terbaring di ranjang klinik sederhana itu, tangisku membuncah tak bisa kutahan, meski tersendat kukeluarkan karena rasa malu. mendengarmu keesokan harinya harus kubawa ke laboratorium untuk dites darah, membuatku pun tak lagi bisa menyembunyikan airmata. wahai sayang, dirimu baru lima bulan yang lalu kulahirkan! tubuhmu pun masih begitu ringkih, dengan berat yang menurun drastis kali ini. Hanya 6 kilo, dan harus disakiti oleh jarum suntik ? rasanya sungguh tak tega. aku tak tega ... :'(

Tapi aku tak pantas menangis. Bahkan bunda-bunda yang lain pun banyak yang mengalami cobaan jauh lebih dari ini, namun mereka begitu tabah menghadapinya. Mengapa aku harus cengeng ? Aku harus kuat ! kuat demi kamu, demi kakak-kakakmu, demi kita, sayang ....

Karenanya, aku memohon, bertahanlah .... meski aku tahu, sakitmu tak mampu kau ucapkan. nyerimu tak mampu kau ungkapkan. hanya sorot mata dan rengekan manjamu yang aku pahami, bahwa kamu menderita.

Jelang hari keenam, demammu masih saja tak kunjung menurun. Meski obat-obatan yang harus kau minum nyaris habis dan segala herbal telah kuberi. maafkan aku sayang, karena tak bisa memberimu ASI eksklusif hingga tepat enam bulan pertama kehidupanmu. terpaksa aku harus membiarkanmu mencicipi yang lain selain asi. maafkan .... maafkan aku sayang. setelah ini, kita berjuang lagi ya..

Sekarang, kumohon kuatlah kau seperti nama tengahmu, TEGAR. Sampai kesembuhanmu tiba, aku akan terus berada di sisimu, tak sedikitpun akan beranjak. malam-malam panjang sendiri menemanimu dalam sunyi, aku harap doaku terdengar olehmu, sayang. yang kuat ya? sabar, sabar .. insya Allah sebentar lagi pasti sembuh. Allah pasti akan segera memberimu nikmat sehat seperti dulu. kita hanya harus yakin dan berdoa. Mari, genggam tangan ibu dan berdoa bersama.


Maafkan aku, karena tak bisa menulis dengan lebih cantik dan lebih layak buatmu. Karena waktuku sangat singkat, karena kamu sudah keburu memanggilku meski sangat lirih. Ya Allah, kemana tangisanmu yang lantang seperti dulu? tatapanmu kini kosong, tanpa cahaya. Izinkan aku menangis, sayang ... meski aku tau, kamu tak akan suka melihatku menangis. menangis tandanya cengeng, dan aku tak boleh cengeng. menangis tak bisa menyelesaikan segala masalah. menangis hanya akan membuat aku lemah. iya kan, sayang?

aku juga tak ingin sakit. aku hanya ingin kamu sembuh. titik. harus sembuh. sembuh, sembuh dan sembuh. no compromise. aku tak boleh sakit, karena aku harus berjuang demi kamu, sayang. kamu pun harus berjuang! jangan pernah mogok minum lagi seperti ini, jangan pernah menutup mulutmu rapat-rapat saat aku hendak menyuapimu sesendok demi sesendok air. kamu harus minum, kamu harus mengisi tubuhmu supaya penyakit itu segera menyingkir jauh-jauh. kita tak ingin kamu harus menginap di rumah sakit kan sayang? iya kan?

Dan aku, tak mampu menyuarakan ini padamu. karena aku tau, kamu pun tak akan mampu menjawab suaraku ....

sudahlah, sebaiknya kita lupakan saja segala keluh. kita berbagi tugas saja.
Tugas utamamu adalah BERTAHAN. Tugas yang lainnya, serahkan padaku.

Seribu maaf dariku,

Ibumu.


(Bandung, 10 November 2012, 00.33)

teruntuk sayap ketigaku, Giffan Tegar Abdirrahman. Hari ini adalah hari Pahlawan. Tugas pahlawan adalah berjuang, dan kamu sedang berjuang. kamu adalah pahlawan, setidaknya bagi ibu, dan kedua kakakmu. MERDEKA!



Biarlah Sepi

Biarlah Sepi - Syahdan, suatu hari di penghujung tahun 2012, tepatnya tanggal 25 Desember, disaat sebagian rakyat Indonesia sedang bersuka cita merayakan hari besar agamanya, seorang perempuan menangis di subuh kelabu. Sebuah pesan singkat yang mampir ke telepon genggam jadulnya membuat seluruh hidup seperti terjungkirbalikkan seketika. Suaminya, kekasih kesayangannya, cahaya yang senantiasa menerangi jalannya, orang yang selama bertahun-tahun telah mengenalnya sedemikian baik, kawan terindah saat menikmati purnama, Ya .. lelaki yang baru menikahinya sekian belas bulan lalu, pagi itu telah tiada. Begitu saja. Tiba-tiba dan tanpa menitipkan sepatah kata pun bagi jagoan ciliknya yang saat itu belumlah genap berusia 7 bulan.

Gelap, Hujan begitu saja berderai seketika. Meski kemudian perempuan itu menyadari, hujan itu bukan turun dari langit, tapi dari kedua matanya. Menyembunyikan airmata, ternyata tak semudah menyembunyikan luka. Malam harinya, ia dapati dirinya mengunci diri dalam kamar, meluapkan duka, bahkan mengiris-iris hatinya sendiri, dengan membiarkan sepotong lirik lagu menemani kembali hujan di hatinya.


 Sejenak aku pandangi batas cakrawala, sang surya pun perlahan tinggalkan bayangan. Ada setangkup rasa yang akan tertinggal, dan mungkin tertinggal ... Jauh di sana.

 
 Jauh di sana ... Tak terjangkau angan.


Keesokan harinya, perempuan  itu sudah harus kembali beraktivitas, mengawal sebuah event selama 2 minggu ke depan, di Gramedia Merdeka Bandung, menjadi MC sekaligus EO event tersebut, sambil terus sekuat tenaga berusaha menahan airmata. Ketika banyak sahabat datang ke lokasi hanya untuk memeluknya, ia hanya mampu berkata, "Please, jangan peluk saya. Jangan biarkan saya menangis, di sini, di tengah banyak
orang. Please, tinggalkan saya sendiri."

Konyol, berpura-pura tegar, padahal setiap pagi, selama dua minggu penuh dan seterusnya, sepanjang perjalanan ia selalu memutar lagu yang sama. Berulang kali, ratusan kali, hingga setiap kata-kata di dalamnya seolah mantra.


Sejenak aku pandangi batas cakrawala,
Sang surya pun perlahan tinggalkan bayangan.
Ada setangkup rasa yang akan tertinggal,
dan mungkin tertinggal ... Jauh di sana.
Seakan aku terkunci
Tanpa dapat dan sempat bertanya

Biarlah sepi, mengurung diri
Dalam seribu tanya yang ada
Biarlah saja, serangga malam
Menjadi temanku ...

Hari-hari tetap sama, tanpa ada yang berubah
Membuat diriku semakin, kian tersudut
Walau telah kucoba, tuk menepis semua
Namun yang ada hanyalah ruangan yang hampa

Biarlah sepi, mengurung diri
Dalam seribu tanya yang ada
Biarlah saja, serangga malam
Senandungkan nada indah ….

Hingga ku terbiasa merasakan semua yang ada
Biarlah waktu yang kan bicara



Ia menjadi kapal yang oleng, kehilangan arah di tengah badai yang menerjang, sementara Sang Nakhoda pergi untuk selamanya. Namun layar harus tetap terkembang, karena ada 3 penumpang kapal yang harus diselamatkan sampai ke pelabuhan tujuan. Tak seorang pun tahu rasanya menjadi ia, ketika kembali segala gunjingan dan tuduhan miring dialamatkan kepadanya, akan statusnya yang kembali sendiri dan dianggap rentan mengganggu stabilitas dan keamanan rumah tangga orang lain.

Ah, mereka cuma tak tahu, tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya untuk menjadi benalu bagi orang lain, meski atas nama C-I-N-T-A. Menjadi sekadar “ban serep” bagi seorang lelaki yang berlagak jumawa hendak beristri dua, sementara mengerti agama pun tidak. Baginya, cahaya penerang jalan di dunia adalah tatap bening ketiga pasang mata milik malaikat kecilnya, yang senantiasa akan selalu mengingatkan, kala perahu yang ia coba kemudikan seorang diri oleng ke kanan dan kiri.  

Hanya yang ia tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran sebagian lelaki yang kemudian mencoba menghampiri, menawarkan apa yang mereka sebut sebagai bantuan berkedok cinta, hingga mengatasnamakan kodrat agama, menyudutkan dirinya seolah ia adalah janda renta yang mau tak mau harus disantuni, bahkan ~yang sedemikian membuat hatinya nyeri~ dianggap kesepian hingga membutuhkan seorang teman di kala malam.


Wahai, bukankah (niat untuk)menyantuni anak yatim tak hanya HARUS diwujudkan dengan menikahi ibunya?


Perempuan itu tak hendak menjadikan dirinya sombong dan takabur. Bukan pula ingin mengumumkan kepada
seluruh dunia, bahwa ia, yang airmatanya masih selalu mengalir setiap malam untuk lelaki luar biasa yang telah tiada, akan tetap tegar berdiri menantang karang sendiri. Ia hanya berpasrah hati, menyerahkan segala takdir hanya pada Illahi.

Hingga pada suatu ketika, di puncak lelahnya yang luar biasa, perempuan itu menulis di secarik kertas sepucuk surat untuk Tuhan. Ya, lewat sepucuk surat berisi tulisan-tulisan buram karena air mata, yang ia larungkan ke angkasa, ia menumpahkan tanya.



Tuhan, mengapa duka ini begitu dalam?
Aku tahu, Kau menjaganya dengan baik sekali di surga-Mu..
Tapi hati ini perih, Tuhan, tiap kali memori tentangnya muncul
Aku kehilangan dia, Tuhan..

Ia pergi tanpa aku sempat mengucapkan salam perpisahan
Atau bahkan maaf..
Sejuta tanyaku terkubur bersama pusaranya
Pertanyaan-pertanyaan yang kini tak lagi penting

Namun ada sedikit tanya yang masih tersisa, Tuhan
di surga-Mu sekarang, masihkah ia menyimpan memori tentang kehidupannya di
bumi?

Jika nanti aku diijinkan bertemu dengannya lagi,
Apakah kami akan masih saling mengingat, Tuhan?


Tuhan, bolehkah aku meminta, satu saat saja,
 di dalam mimpi, aku bertemu dengannya?
Seperti apa dia sekarang, Tuhan?

Apakah makannya masih selahap dulu,
Saat aku menghidangkan seporsi sambal pedas luar biasa
Yang selalu menjadi kesukaannya?

Apakah di sana ia baik-baik saja dan masih bisa tertawa?

Hatiku kerap basah oleh rindu
Tak bisa terbang memulai perjalanan baru
Tuhan, aku merindukan dirinya
Bantu aku sembuhkan luka ini, Tuhan

Titip cinta untuknya, peluk ia untukku
Izinkan aku mengucapkan salam perpisahan,
Lalu berkata, "Auf Wiedersehen, Meine Liebe …”

Sampai kita berjumpa lagi …



Lantas, Biarlah sepi mengurung diri dalam seribu tanya yang ada.

 (Sebuah Catatan, 25 Desember 2012-6 April 2014)





Thanks to:

1.      Kang Ahmad Sebastio, yang lagu indahnya (Biarlah Sepi, Sahara Band) telah menemani hari-hari
tergelap dalam hidup saya;
2.     Nidandelion Pedestrian, yang mengizinkan bait-bait puisinya saya kutip karena meneriakkan
lantang isi hati saya, dengan sedikit ‘penyesuaian’ di sana sini;
3.     Bang Hafidz, yang telah menjadi sahabat terbaik 8 bulan belakangan ini;
4.     Sahabat-sahabat saya di “The Botrams”, sungguh, kalian telah mampu menyingkirkan awan kelabu
itu;
5.     Anak-anak saya, Hafidz, Rayna, Ipank: “Kelak kalian akan mampu mengerti isi catatan ini sepenuhnya.”
6.     Seluruh sahabat yang telah senantiasa meluangkan waktu untuk sekadar singgah sejenak di akun
saya, dan menitipkan jempol atau komen, “U are such a good friends, guys …”



Nb: *) Catatan ini saya tulis hanya untuk sekadar melepas
sedikit gundah dan resah. Bukan mencoba untuk menarik simpati berlebihan,
karena percayalah, yang saya butuhkan bukan sebuah simpati melainkan sebait DOA.