Aku Seputik Bunga

Dear Lelaki Tak Bernama,

Siapapun dirimu, dimanapun kau berada, tahukah kau di sini aku menunggumu ? Mungkin kita belum pernah bertemu, mungkin pula kau terlahir di benua yang berbeda. Tapi bukan tidak mungkin sesungguhnya kita pernah dipertemukan oleh garis takdir. Entah itu di taman kota, tempat aku biasa duduk sendiri menatap mendung yang bergulung, ataukah di café di mana aku biasa menghabiskan malam-malam tak bertepi sambil menikmati secangkir coklat panas ?

Aku meyakini bahwa setiap makhluk bernyawa memilik takdirnya masing-masing yang harus tergenapi sebelum perjalanan panjangnya harus berakhir di halte penghabisan. namun aku tak tahu kemana takdir akan membawaku. Seperti putik bunga, aku membiarkan sang angin menerbangkanku kemana pun ia suka dan aku menunggu di manakah aku akan berakhir. Di padang pasir yang gersang kah ? Kebun yang sangat indah ? Taman kota yang sesak ? ataukah di surga ?


Dear Lelaki Tanpa Rupa,

Kemanapun aku diterbangkan oleh takdir, aku berharap kelak di sana aku akan menemukanmu. Berdiri di sudut terindah, menanti kehadiranku. menyambut kedua tanganku dengan suka cita dan airmata.

Dimanapun itu, aku tak ingin bermimpi. mungkin bukan saat ini, karena Tuhan sedang mempersiapkan kita, Sayang... Mempersiapkan kita untuk menjadi potongan puzzle yang tepat bagi satu sama lain.

Tuhan sedang menyiapkan takdirmu, juga takdirku. Ia ingin aku menjadi perempuan yang kuat, tegar sekaligus lemah lembut dan sabar, untukmu. Dan ia juga sedang menempamu menjadi lelaki hebat yang memiliki cinta dalam setiap denyut nadimu, tak lupa diberikan-Nya untukmu kekuatan ekstra yang kelak akan membuatmu menjadi lelaki yang siap melindungiku dan anak-anak kita hingga penghujung masa.


Dear Lelaki Entah Di Mana,

Meski keyakinan ini sedemikian kuat bahwa pasti kelak kita akan dipertemukan oleh-Nya, namun aku tak bisa berkelit dari rasa, tak bisa mungkir dari pikir. Aku merindukanmu ! Teramat sangat merindukanmu, lelaki tak bernama, tak berupa dan entah di mana....

Seringkali kubiarkan anganku terbang melayang, tak ingin kutangkap dan kukembalikan ke tempat di mana ia seharusnya berasal. Kupandangi anganku mengikuti awan, hinggap di pucuk-pucuk pinus yang harumnya kuhirup seketika.

Aku ingin anganku menunjukkan di mana engkau berada. Bukankah angan tak terhalang ruang dan waktu ? Ia dapat mencarimu dalam radius ratusan kilometer sekalipun. ia dapat mengenali harum tubuhmu di antara keramaian.

Sudahkah kau lihat anganku ? Sampaikah ia ke hadapanmu ? Apakah ia menyampaikan semua pesan yang kurangkai dalam setiap doa di malam-malam panjangku untukmu ?


Dear Lelaki Yang Ditanganmu Tuhan Ikatkan Benang Merah Yang Tersambung Ke Jemariku,

Sesungguhnya aku marah padamu. Mengapa kau menunggu terlalu lama untuk menjemputku ? Dimanakah kau ? Tidakkah kau mampu mendengar jeritku yang meminta pertolonganmu ? Aku membutuhkanmu, mengajariku banyak hal di dunia dengan cinta, kesabaran tanpa batas, ketegasan yang lembut, dengan tangan yang selalu sigap membantuku kala ku terjatuh, dengan hati yang selalu siap berbagi, dengan senyum yang terukir senantiasa, dengan kebijakan brahma yang wibawa.

Sungguh terlalu ku kesal padamu. yang entah ada di mana ketika aku mengalami ujian demi ujian berat seorang diri. Tidakkah kau ingin mencari tahu bagaimana nasib belahan jiwamu di sini ?

Aku butuh kamu di sini, saat ini. sebelum aku terjatuh ke ruang-ruang gelap lebih dalam lagi. Tariklah tanganku, bawa aku ke tempat di mana tak ada lagi airmata selain air mata kebahagiaan.


Dear Lelaki Yang Bahunya Seharusnya Menjadi Tempatku Bersandar,

Aku ingin mengabdi padamu, dengan cinta yang tak terukur, dengan hati yang tak bisa dinilai hanya dari luar. Mampukah kau membacaku  ? membaca yang tak terlihat, merasakan apa yang tak teraba, menyerap seluruh rapuh, perih, sakit, kecewa dan sedih ini ?

Sudahkah Tuhan mempersiapkanmu untukku, seperti ia yang telah menempaku untuk kelak mendampingimu ?


Dear Lelaki Belahan Jiwaku,

Temukanlah aku.... aku menunggumu.




Aku ingin cinta yang sederhana
Bukan cinta bertabur mimpi semu
Dihiasi seribu dusta

Aku ingin cinta yang anggun
Tak lelah saling mencari makna
Di antara tatap penuh kasih
Senyum tulus penuh hasrat
Di antara genggaman erat pada jemari

Aku ingin cinta yang terus menerus
Coba selalu terus nyalakan api
Agar tak hilang panasnya
Agar senantiasa terjaga hangatnya

Menatapmu dalam lelap
Duduk bersama di beranda
Ketika hari beranjak senja
Menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa
Bersama, berdua
Susuri jalan tanpa jeda…

Aku ingin seseorang yang kuat
Menghadapi cobaan hidup yang berat
Seseorang yang tepat
Yang hatinya tak berkarat
Tak ingin meminta banyak
Hanya satu dari yang terserak
Hati yang seluas samudera
Menggenggam tanganku
Bersama-sama, senantiasa…

THE END

Menatap Senja Hanya Berdua

You're The Yin To My Young

Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar