Bertemu Denganmu Dalam Sebuah Perjalanan

( Untuk Sahabat-sahabat Mayaku )





Hidup tak pernah bisa tertebak bagaimana awal dan akhirnya, selain sebagai suatu fase panjang yang harus kita lalui sebagaimana mestinya, untuk mencapai suatu kesempurnaan. Hidup tak selalu bisa terencana akan dimulai dan berakhir dimana. Terkadang kita hanya sekedar menjalani tanpa tahu arah dan tujuan, namun tak sedikit yang sadar, untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus menjalani hidupnya.


Bagiku hidup dimulai ketika aku paham, untuk apa aku dilahirkan. Seperti sebuah perjalanan panjang menuju satu keabadian. Perjalanan yang tak akan pernah sanggup aku lalui sendirian. Melangkah sunyi, ditengah keramaian, perasaan terasing dalam sebuah pesta pora yang berujung huru hara. Sungguh, betapa sepi hidupku tanpa kehadiran peran-peran lain yang mewarnai setiap langkah hari demi hari.


Bagiku hidup bagaikan sebuah persinggahan dalam menjalani suatu perjalanan. Terkadang kita berhenti sejenak melepas lelah, menatap sekitar, menyaksikan polah tingkah orang-orang yang sama sekali tak kita kenal. Mempelajari aneka rasa, sedih,marah, kecewa, tangis, bahagia, senyum, hampa dan kosong.


Aku melangkahkan kaki setapak demi setapak, perlahan menjejak. Dalam perjalanan yang terkadang berbatu, terkadang mendaki dan terjal, menurun, tandus, penuh bunga. Bagaikan sebuah pentas drama raksasa yang penuh aktor menyelami perannya masing-masing. Dengan skenario diselembar kertas lusuh terlekat erat ditangan.


Aku bertemu pelangi, aku bertemu hujan yang merindukan bumi, aku bertemu timur dan barat, aku menjumpai banyak sosok yang berperan penting dalam perjalanan hidupku.

Dan aku menjumpaimu.....


Sosok yang kutemui dalam sebuah halte persinggahan ketika aku melepas lelah. Seorang yang malu-malu menyapa dengan hati-hati dan santun, hingga membuatku merasa perlu menjawab uluran perkenalan yang kau tawarkan. Menjawab sapaanmu menjadi suatu keharusan buatku dan bukan kewajiban.


Kamu akhirnya menjadi teman perjalanan yang cukup menyenangkan , aku mengatakan cukup karena kita belum pernah saling bertatap muka, hanya sebuah perjalanan menyusuri ruang-ruang maya yang dingin dan beku. Sebuah percakapan ringan melompat dari satu masalah ke masalah lain, dari satu topik ke topik lain. Mengalir begitu saja.


Tiba-tiba sosokmu begitu saja mengisi hari-hariku tanpa terencana, tanpa rekayasa, sedemikian mengalirnya hingga aku tak menyadari sejak kapan semua ini diawali. Setiap kata yang kita lontarkan, setiap kalimat yang kita bagi, dan setiap rangkaian cerita yang kita ungkap, semua seolah berujung pada satu makna : KAU DAN AKU TIDAK BERANJAK KEMANA-MANA. Seolah, saat kamu menjalani seluruh kisah hidupmu dan aku menjalani kisahku sendiri, kita menjalaninya bersama-sama.


Kau yang begitu tegar dan kuat, mampu mengisiku yang rapuh dan lemah. Mencintaiku selayak seorang sahabat dan saudara terbaik yang pernah ada, tak peduli berapa puluh orang yang telah hadir sebelum kamu. Menepis keraguanku tentang persahabatan semu di dunia maya yang beku.


Aku yakin, jika memang kita tulus dalam perjalanan ini, kita akan bisa menjadi sahabat terbaik untuk satu sama lain. Kita bisa menangis bersama, terdiam memandang lepas menatap entah kemana sementara aku ada disisimu dan kamu ada disisiku. Sekedar menikmati secangkir kopi dengan gula ditakar sendiri, bercakap tentang kegilaan yang terjadi di hari-hari kita, berbagi kisah yang teramat biasa namun bisa menjadi luar biasa ketika kisah-kisah itu keluar dari dirimu. Kisah kita sangat sederhana kadang hanya diskusi tak penting.


Ya, kita memang memiliki hidup yang berbeda. Suatu saat nantipun kamu mungkin akan pergi setelah kamu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin akupun akan beranjak ke tempat yang berbeda. Mungkin kita akan dipertemukan lagi di penghentian selanjutnya, atau bahkan ku tak akan pernah melihatmu lagi dalam hidupku ?


Aku tahu, suatu saat nanti kita pasti melanjutkan hidup kita masing-masing. Setelah hari mulai merayap senja. Setelah kita cukup tenaga untuk berjalan menempuh perjalanan panjang kembali. Menemui peran-peran lain dalam kehidupan kita. Kamu dengan hidup barumu, dan aku dengan hidupku yang mungkin akan terbaharui ataupun tidak namun selalu kaya akan warna.


Hingga kelak, perjalanan kita di dunia akan tiba pada perhentian terakhir. Perhentian yang menjadi mula dari perjalanan abadi kita di pelukan Ilahi. Akankah kita kembali dipertemukan dalam rengkuhan-Nya ? Dalam kesejatian yang paling sejati ? semoga saja, segala amalan kita di dunia yang kita persiapkan akan membawa kita bertemu kembali, Sahabat… Di pertemuan paling hakiki. Semoga, kelak disana, skenario Sang Maha Sutradara akan membawa kita mengakhiri panggung-panggung sandiwara ini dengan applause tanpa henti dari mereka yang menyaksikan kita memainkan peran kita dengan sempurna.

Amin… Ya Rabb….


NB : Jika reinkarnasi itu ada, akankah aku bereinkarnasi menjadi Truk Pasir agar kelak mungkin akan kau tumpangi ?? atau menjadi pelangi yang senantiasa kau cari ? atau hanya menjadi hujan yang akan mengunjungimu sesekali ? entahlah....



Aku akan bernyanyi bersamamu…
Duduk disampingmu…
Menangis untukmu jika kau mau
Mengikuti setiap langkahmu …
Selama kamu membutuhkanku…
Terima kasih buat segalanya..
Untuk setiap waktu yang kau korbankan untukku
Untuk setiap pulsa yang kau habiskan untuk menghubungiku
Untuk setiap senyum yang kau berikan untukku
Untuk setiap empati yang kau sediakan selalu..
Untuk setiap kata-kata baik hati yang selalu siap kau ucapkan padaku..
Terima kasih, sungguh terlalu….



Sungguh Senang Bercakap Denganmu….

Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar