Biarlah Sepi

Biarlah Sepi - Syahdan, suatu hari di penghujung tahun 2012, tepatnya tanggal 25 Desember, disaat sebagian rakyat Indonesia sedang bersuka cita merayakan hari besar agamanya, seorang perempuan menangis di subuh kelabu. Sebuah pesan singkat yang mampir ke telepon genggam jadulnya membuat seluruh hidup seperti terjungkirbalikkan seketika. Suaminya, kekasih kesayangannya, cahaya yang senantiasa menerangi jalannya, orang yang selama bertahun-tahun telah mengenalnya sedemikian baik, kawan terindah saat menikmati purnama, Ya .. lelaki yang baru menikahinya sekian belas bulan lalu, pagi itu telah tiada. Begitu saja. Tiba-tiba dan tanpa menitipkan sepatah kata pun bagi jagoan ciliknya yang saat itu belumlah genap berusia 7 bulan.

Gelap, Hujan begitu saja berderai seketika. Meski kemudian perempuan itu menyadari, hujan itu bukan turun dari langit, tapi dari kedua matanya. Menyembunyikan airmata, ternyata tak semudah menyembunyikan luka. Malam harinya, ia dapati dirinya mengunci diri dalam kamar, meluapkan duka, bahkan mengiris-iris hatinya sendiri, dengan membiarkan sepotong lirik lagu menemani kembali hujan di hatinya.


 Sejenak aku pandangi batas cakrawala, sang surya pun perlahan tinggalkan bayangan. Ada setangkup rasa yang akan tertinggal, dan mungkin tertinggal ... Jauh di sana.

 
 Jauh di sana ... Tak terjangkau angan.


Keesokan harinya, perempuan  itu sudah harus kembali beraktivitas, mengawal sebuah event selama 2 minggu ke depan, di Gramedia Merdeka Bandung, menjadi MC sekaligus EO event tersebut, sambil terus sekuat tenaga berusaha menahan airmata. Ketika banyak sahabat datang ke lokasi hanya untuk memeluknya, ia hanya mampu berkata, "Please, jangan peluk saya. Jangan biarkan saya menangis, di sini, di tengah banyak
orang. Please, tinggalkan saya sendiri."

Konyol, berpura-pura tegar, padahal setiap pagi, selama dua minggu penuh dan seterusnya, sepanjang perjalanan ia selalu memutar lagu yang sama. Berulang kali, ratusan kali, hingga setiap kata-kata di dalamnya seolah mantra.


Sejenak aku pandangi batas cakrawala,
Sang surya pun perlahan tinggalkan bayangan.
Ada setangkup rasa yang akan tertinggal,
dan mungkin tertinggal ... Jauh di sana.
Seakan aku terkunci
Tanpa dapat dan sempat bertanya

Biarlah sepi, mengurung diri
Dalam seribu tanya yang ada
Biarlah saja, serangga malam
Menjadi temanku ...

Hari-hari tetap sama, tanpa ada yang berubah
Membuat diriku semakin, kian tersudut
Walau telah kucoba, tuk menepis semua
Namun yang ada hanyalah ruangan yang hampa

Biarlah sepi, mengurung diri
Dalam seribu tanya yang ada
Biarlah saja, serangga malam
Senandungkan nada indah ….

Hingga ku terbiasa merasakan semua yang ada
Biarlah waktu yang kan bicara



Ia menjadi kapal yang oleng, kehilangan arah di tengah badai yang menerjang, sementara Sang Nakhoda pergi untuk selamanya. Namun layar harus tetap terkembang, karena ada 3 penumpang kapal yang harus diselamatkan sampai ke pelabuhan tujuan. Tak seorang pun tahu rasanya menjadi ia, ketika kembali segala gunjingan dan tuduhan miring dialamatkan kepadanya, akan statusnya yang kembali sendiri dan dianggap rentan mengganggu stabilitas dan keamanan rumah tangga orang lain.

Ah, mereka cuma tak tahu, tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya untuk menjadi benalu bagi orang lain, meski atas nama C-I-N-T-A. Menjadi sekadar “ban serep” bagi seorang lelaki yang berlagak jumawa hendak beristri dua, sementara mengerti agama pun tidak. Baginya, cahaya penerang jalan di dunia adalah tatap bening ketiga pasang mata milik malaikat kecilnya, yang senantiasa akan selalu mengingatkan, kala perahu yang ia coba kemudikan seorang diri oleng ke kanan dan kiri.  

Hanya yang ia tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran sebagian lelaki yang kemudian mencoba menghampiri, menawarkan apa yang mereka sebut sebagai bantuan berkedok cinta, hingga mengatasnamakan kodrat agama, menyudutkan dirinya seolah ia adalah janda renta yang mau tak mau harus disantuni, bahkan ~yang sedemikian membuat hatinya nyeri~ dianggap kesepian hingga membutuhkan seorang teman di kala malam.


Wahai, bukankah (niat untuk)menyantuni anak yatim tak hanya HARUS diwujudkan dengan menikahi ibunya?


Perempuan itu tak hendak menjadikan dirinya sombong dan takabur. Bukan pula ingin mengumumkan kepada
seluruh dunia, bahwa ia, yang airmatanya masih selalu mengalir setiap malam untuk lelaki luar biasa yang telah tiada, akan tetap tegar berdiri menantang karang sendiri. Ia hanya berpasrah hati, menyerahkan segala takdir hanya pada Illahi.

Hingga pada suatu ketika, di puncak lelahnya yang luar biasa, perempuan itu menulis di secarik kertas sepucuk surat untuk Tuhan. Ya, lewat sepucuk surat berisi tulisan-tulisan buram karena air mata, yang ia larungkan ke angkasa, ia menumpahkan tanya.



Tuhan, mengapa duka ini begitu dalam?
Aku tahu, Kau menjaganya dengan baik sekali di surga-Mu..
Tapi hati ini perih, Tuhan, tiap kali memori tentangnya muncul
Aku kehilangan dia, Tuhan..

Ia pergi tanpa aku sempat mengucapkan salam perpisahan
Atau bahkan maaf..
Sejuta tanyaku terkubur bersama pusaranya
Pertanyaan-pertanyaan yang kini tak lagi penting

Namun ada sedikit tanya yang masih tersisa, Tuhan
di surga-Mu sekarang, masihkah ia menyimpan memori tentang kehidupannya di
bumi?

Jika nanti aku diijinkan bertemu dengannya lagi,
Apakah kami akan masih saling mengingat, Tuhan?


Tuhan, bolehkah aku meminta, satu saat saja,
 di dalam mimpi, aku bertemu dengannya?
Seperti apa dia sekarang, Tuhan?

Apakah makannya masih selahap dulu,
Saat aku menghidangkan seporsi sambal pedas luar biasa
Yang selalu menjadi kesukaannya?

Apakah di sana ia baik-baik saja dan masih bisa tertawa?

Hatiku kerap basah oleh rindu
Tak bisa terbang memulai perjalanan baru
Tuhan, aku merindukan dirinya
Bantu aku sembuhkan luka ini, Tuhan

Titip cinta untuknya, peluk ia untukku
Izinkan aku mengucapkan salam perpisahan,
Lalu berkata, "Auf Wiedersehen, Meine Liebe …”

Sampai kita berjumpa lagi …



Lantas, Biarlah sepi mengurung diri dalam seribu tanya yang ada.

 (Sebuah Catatan, 25 Desember 2012-6 April 2014)





Thanks to:

1.      Kang Ahmad Sebastio, yang lagu indahnya (Biarlah Sepi, Sahara Band) telah menemani hari-hari
tergelap dalam hidup saya;
2.     Nidandelion Pedestrian, yang mengizinkan bait-bait puisinya saya kutip karena meneriakkan
lantang isi hati saya, dengan sedikit ‘penyesuaian’ di sana sini;
3.     Bang Hafidz, yang telah menjadi sahabat terbaik 8 bulan belakangan ini;
4.     Sahabat-sahabat saya di “The Botrams”, sungguh, kalian telah mampu menyingkirkan awan kelabu
itu;
5.     Anak-anak saya, Hafidz, Rayna, Ipank: “Kelak kalian akan mampu mengerti isi catatan ini sepenuhnya.”
6.     Seluruh sahabat yang telah senantiasa meluangkan waktu untuk sekadar singgah sejenak di akun
saya, dan menitipkan jempol atau komen, “U are such a good friends, guys …”



Nb: *) Catatan ini saya tulis hanya untuk sekadar melepas
sedikit gundah dan resah. Bukan mencoba untuk menarik simpati berlebihan,
karena percayalah, yang saya butuhkan bukan sebuah simpati melainkan sebait DOA.











Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar