Menjadi Single Parent, Kenapa Harus Takut?

Siapapun orangnya,tak mungkin ada yang mau jadi single mom. Aku sangat yakin tentang hal itu. Jadi, persoalan seseorang itu pada akhirnya menyandang status single mom atau tidak,  bukan hanya sepenuhnya karena keputusan dia sendiri, melainkan juga karena campur tangan Tuhan. Intervensi yang tak terbantahkan dari Sang Maha Sutradara.

Ketika buku A Cup of Mom for Single Mom terbit, buku ini menjadi buku yang luar biasa buatku. Selain karena memang ini bisa dibilang buku pertamaku yang terbit, juga karena buku ini memang BBB, Bukan Buku Biasa. Buku ACOT-SM adalah buku yang proses kelahirannya penuh airmata ( ha ha lebay). Ya, karena sejak 2 tahun sebelum buku ini lahir, aku sudah memimpikannya setiap kali aku melamun memandangi hujan. Impianku adalah, kelak aku harus menulis buku, tentang kisah-kisah para single mom dan buku itu harus diberi nama A Cup of Tea for Single Mom ! Mengenai proses dan sejarah ACOT lebih lanjut, nanti diceritakan di note terpisah ya :).

Yang ingin aku tuliskan di sini adalah, kisahku di buku itu luar biasa buatku. "Petir Yang Menyambar Dalam Hidupku" adalah judul tulisan yang aku masukkan di sana. aku menceritakan perjalanan hidupku selama bertahun-tahun menjadi seorang single mom, yang kenyang oleh rasa trauma. Pernah disakiti secara fisik oleh mantan suami hanya karena cemburu yang memang tak beralasan hingga diilecehkan oleh banyak lelaki yang menganggap bahwa seorang Single Mom itu adalah makhluk kesepian yang bisa dimanfaatkan oleh mereka. Hei Bung, Kau salah orang !

Dan kisahku di buku itu tamat ketika aku memutuskan untuk membuang rasa trauma, melemparnya ke balik gunung Manglayang dan memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki single parent yang memiliki 5 orang anak. pertimbangan pertamaku memilihnya adalah, karena kelima anaknya butuh kasih sayang ibu, setelah ibu mereka meninggal dunia karena penyakit kanker. Pertimbangan kedua adalah karena aku lelah berjalan sendirian bertahun-tahun. Dengan niat ibadah, dan menyayangi kelima anak piatu itu, aku yakin aku akan menjadi ibu yang baik bagi mereka. Bismillah perjalananku pun kembali kumulai.

Namun siapa pernah menyangka -bahkan dalam mimpi pun aku tak pernah membayangkan- bahwa perjalanan itu harus terhenti kurang dari enam bulan. Aku shock, apa yang salah ?  orang yang kukira tadinya adalah petir yang mampu menyambarku, ternyata hanyalah sebuah kilatan tak bermakna. Dia pergi begitu saja meninggalkanku tanpa kata, tanpa pesan, seolah aku ini hanya seonggok barang yang tinggal dibuang begitu sudah tak terpakai.

Banyak sahabat dan keluarga mendukungku, Mereka sangat tau bahwa aku tak layak diperlakukan sperti itu, setelah apa yang telah kuperjuangkan selama ini. Tak sedikit pula yang mencibir ke arahku, dan seolah berkata, "Apa gue bilang, pilihan lo salah kan ?"

Ya, aku memang menangis kala harus kembali ke Bandung sendirian. Dan sungguh luar biasa, Tuhan mengirim HUJAN untuk menemani perjalananku. ya, hujan turun sangat deras sejak awal aku berangkat pulang ke Bandung, Sederas air mata, sepilu hati dan sesakit nyeri ini.

Malam itu aku menangisi semua. Menangisi kelima anak yang terpaksa harus terpisah dariku padahal aku sangat menyayangi mereka seperti dua anak kandungku. Bahkan salah satu anak terkecil sempat menangis dan memelukku ketika aku pamit padanya. Hingga berminggu setelahnya, aku nyaris tiap malam bermimpi buruk dan terbangun dengan keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh.

Aku biarkan airmata itu mengalir berhari-hari. Namun kemudian, 4 hari setelah aku kembali ke kota di mana anak-anakku berada, aku berhenti menangis. Kubuka jendela dan menghirup segarnya udara pagi berkabut di kota Bandung. Hidup terlalu indah untuk dijalani dengan menangis dan menyesali diri.  Sakit, tapi gak ada jalan lain selain tersenyum dan berterima kasih pada Allah. karena setiap benturan itu membuatku jadi semakin kuat dan lebih kuat menghadapi hidup.

Sekarang, setiap anak2ku berkata, "ibu, kita mau punya bapak.." aku cuma menjawab, "ibu bisa menjadi bapak buat kalian anak2ku, kita gak perlu menambah satu orang lain masuk dalam kehidpan kita kalau hanya utk menyakiti hati kita. bersabarlah.. ibu akan berusaha utk menjadi ibu sekaligus bapak terbaik."

Saat ini bekerja dan terus bekerja adalah pelarian terbaikku selain selalu berkencan dengan Sang Maha Kasih di malam-malam panjang yang kuhabiskan sendirian. Being a single mom, bukan aib yang pantas membuat diri kita malu dan merasa rendah diri.

Being A Single Mom, tak harus dijalani dengan tangis. Tuhan adalah Guru terbaik. Ia selalu menyelipkan kunci jawaban di setiap ujian yang Ia berikan kepadaku. Hanya aku harus selalu peka mengeja tanda dan membaca yang tak terlihat, agar aku senantiasa dapat menemukan dimana kunci jawaban itu berada.


Huffffh.. buku A Cup of Tea For Single Mom begitu menguras airmataku bahkan hingga detik ini setiap kali aku melihatnya. Bukan tangis penyesalan. hanya tangis yang mengiringi kalimat-kalimat lirihku, "hidupku memang luar biasa, Ya Allah... U're the best".

Dan buku kedua, A Cup of Tea for Complicated Relationship, pada akhirnya harus membuatku mengharubiru (lagi) ketika menuliskan kisahku di dalamnya. Whuaaaaaaaaaaaaaaaaa......Penasaran ? ini sekelumit kisah yang kutulis di buku itu :

                                                      *************************************

Hening, kupakukan pandang pada awan yang bergulung hitam. Rasanya awan itu tampak semakin berat saja dan siap menjelma menjadi hujan yang cantik. Entah sejak kapan kucintai hujan itu layaknya diriku sendiri. Mungkin sejak aku sadar bahwa hujan adalah tempat yang tepat bagiku untuk menangis tanpa diketahui orang lain karena airmataku tersamarkan olehnya, mungkin pula karena banyak momen terpenting hidupku terjadi pada saat musim penghujan seperti ini.

            Seperti kali ini. Aku mengalami guncangan batin yang hebat, atas nama cinta. Cinta yang seringkali kutolak hadirnya, namun selalu memaksa menyeruak masuk hingga ku tak mampu berkutik dan menyerah pada takdir. Peristiwa besar dalam hidupku yang lagi-lagi terjadi di kala hujan lebat. Pengkhianatan cinta. Suami,  yang seharusnya menjaga dan melindungiku, tiba-tiba menghilang tanpa kata. Layaknya seorang pengecut yang lari terbirit-birit dari gelanggang pertarungan. Seolah ingin menyempurnakan kesedihanku kala aku melepas kepergian adik ke tempat peristirahatan terakhirnya, yang lembab dan basah oleh air hujan. Seolah ingin menggenapkan rasa kehilanganku ketika kedua orangtuaku terpaksa harus berpisah –lagi-lagi atas nama cinta- setelah puluhan tahun berusaha menjadi sosok terbaik dalam kehidupanku.

            Aku menghapus airmata yang meluruh. Tak ingin menjadi cengeng hanya karena cinta. Hidup di depan sana yang harus kuperjuangkan memaksaku untuk bangkit dan kembali berjalan melawan nasib. Aku berontak. Aku terluka. Aku tak ingin tersakiti lagi untuk yang kesekian kali.

            Lelaki itu datang ketika aku nyaris tak percaya akan sebentuk rasa yang bernama CINTA. Lelaki itu berdiri di tengah amarahku. Tenang, tak bergeming meski awan panas yang siap kusemburkan sewaktu-waktu bisa saja meluluhlantakkannya. Ditatapnya aku  dengan mata yang penuh senyum dan menawarkan kedamaian.

“Aku terluka oleh janji yang terkhianati, “ menangislah aku di hadapannya.

Namun lelaki itu –lagi-lagi- hanya tersenyum. Ia merengkuhku dalam hangat senyumnya.

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu, takkan pernah mengkhianatimu, hingga kelak senja menua di hadapan kita, dan malam-malam pekat yang akan kita bagi bersama takkan mampu menyeret kita ke dalam pusaran waktu.”

Aku pun luluh. Hatiku sedemikian penuh luka, hingga rasanya aku masih sanggup menempatkan satu luka lagi di antaranya jika kemudian lelaki itu mengingkari janjinya. Biarlah, sekali ini aku bertaruh dengan takdir, bisikku.

                                                  ************************************************

TESTIMONI untuk buku "A Cup of Tea for Complicated Relationship"

“A Cup Of Tea for Complicated Relationship bagi saya adalah sebuah buku yang mampu menjadi refleksi akan kehidupan percintaan anak manusia yang penuh dengan rasa: suka, duka, gembira, kecewa, bahagia dan putus asa.. Buku ini informatif karena memberikan contoh hal-hal yang harus dihindari dalam "bercinta" dan inspiratif karena buku i...ni juga menyuguhkan nilai-nilai positif dalam "bercinta". Word of advice: just sit back, relax and enjoy your cup of tea!”

(Olla Ramlan – Artis, Model, Socialite)

<p> </p>Buku ini ibarat sungai yang gak akan membuat kita terlarut seperti gula yang lebur jadi manis dalam aliran ceritanya. Kita akan jadi sosok utuh yang dibawa mengaliri setiap arus dan jeram cerita yang memiliki liku dan panorama yang berbeda. 20 hulu yang berakhir di satu titik hilir, cinta. Tentunya semuanya menarik dengan arus dan likunya masing-masing. Nikmati setiap ceritanya.<p> </p>( Fitri Tropica - Artis, Host dan Penulis Buku "Kening ")<p> </p><p> </p>"Membaca cerita-cerita dalam buku ini membuat saya teringat dengan kisah-kisah saya sendiri, dan tersadar, cinta tidak melulu soal bahagia, tapi bisa jadi pelajaran berharga yang dititipkan melalui orang yang pernah singgah di hati kita. Jangan putus asa dengan cinta!"<p> </p>(Ollie - Penulis dan Founder online self publishing NulisBuku.com)<p> </p><p> </p>“Membaca buku ini kita merasa tidak sendiri, serasa ada sahabat yang hangat dihati, yang penuh semangat membantu mengambil pilihan untuk keluar dari masalah”<p> </p>(Ninuk Retno Raras – Penulis dan Pemerhati Perempuan)<p> </p><p> </p>"Dengan membaca kisah-kisah di novel ini, kita akan merasa bahagia dan bersyukur dalam waktu bersamaan. Bahagia karena ternyata kita tidak sendirian yang punya kisah cinta menyakitkan. Bersyukur karena apa yang sudah kita punya sekarang sangat luar biasa!! This book makes you feel in good”<p>(Manik, Vocalist La Luna, Penyiar Hardrock FM Bandung)</p><p> </p>



A CUP OF TEA FOR COMPLICATED RELATIONSHIPA CUP OF TEA FOR

Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar