Ode Untuk Adikku

Dik ,

Mungkin esok, hujan tak lagi datang dari timur..

Namun kelak ketika saat itu tiba, haruskan wanita itu menangisinya ?

Serupa istana pasir yang ia bangun di tepian istana megah

Sedemikian indah namun tetap saja kosong

Kelak wanita itu kurasa juga mesti menegakkan kepala

Dan menghiasi bibirnya dengan tersenyum terindah,

"Terima kasih sayang, pernah ada satu masa kau menjadi bagian dari hidupku meski teramat singkat kueja cintamu..."



Dik,

Seperti tadi kau bilang tentang hidup yang seperti roda berputar

Hari ini kita mencinta dan tertawa bersama

Namun esok bisa saja giliran kita terjaga

Memandanginya berjalan bergegas menuju rumah, tempatnya pulang

Kita tentu sama tak bodoh bukan ? berharap hidup seindah film yang diputar di layar kaca

Bermimpi tentang pangeran yang rela menukar permaisuri dengan rakyat jelata ?

Ha ha, mencoba menafikkan rasa mengenyampingkan logika..



Dik,

Kita biarkan saja hidup membawa kita kemana ia suka

Jangan dulu memutuskan hendak berhenti di halte yang mana

Karena mungkin perjalanan kita mesti diteruskan

Dan takkan pernah menangisinya kelak...

Hingga nanti telah ia pastikan kemana ia hendak pulang...

Menuju ke arah atau berbalik dari : KITA




( Bandung Sunyi, 24 Mei 2010 )

Tidak ada komentar