Pelajaran Tentang Cinta

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam sebuah lomba penulisan, berisi kisah tentang perjuangan seorang istri Mantan Presiden nomer satu Republik Indonesia, Soekarno. Tulisan ini, saya repost dengan perbaikan di sana sini, tentunya untuk mengenang betapa luar biasanya sebuah cinta yang sebenarnya cinta.



Perjuangan Seorang Istri Mengantarkan Suami Ke Pintu Gerbang Kemerdekaan ( Sekelumit Kisah Tentang Inggit Garnasih, istri Bung Karno )


“Dibalik kebesaran nama seorang lelaki, ada keagungan hati seorang perempuan ….”


Seorang istri, adalah jiwa bagi suaminya, Mata air yang tak pernah kering, Penyemangat yang tak pernah lelah, yang senantiasa berjuang untuk mendorong belahan jiwanya meraih kesuksesan dalam kehidupan. Seorang istri adalah pendamping yang selalu berjalan di sisi dalam setiap perjuangan, sahabat yang senantiasa menyediakan telinganya untuk mendengar, mata untuk melihat dan bibir untuk tersenyum hangat. Ibu yang memberikan kasih sayang dan kehangatan dikala ia lelah dan membutuhkan hati untuk bersandar.

Istri bisa menjadi pendukung terhebat sekaligus musuh terberat bagi suaminya. Tentu kita sangat mengenal komunitas tanpa bentuk yang bernama ISTI ( Ikatan Suami-suami Takut Istri ) dimana seorang istri bisa menjadi momok yang menakutkan bagi pasangannya dikarenakan sifatnya yang pencemburu, gampang naik darah, posesif dan egois. Tentu, sebagai perempuan, saya tidak ingin masuk menjadi bagian dari penyebab terbentuknya komunitas tersebut. Menjadi salah satu sebab mengapa suami menjadi pribadi yang buruk dan pada akhirnya meninggalkan saya karena kehilangan cintanya pada saya.

Sebagai seorang perempuan, tentulah banyak orang yang ingin menjadi perempuan cantik lahir dan batin. Menjadi perhiasan bagi suami dan anak-anak. Menjadi figur yang senantiasa terlihat selalu ada disamping lelaki tercinta, yaitu suami. Untuk itu, senantiasa kita dapat belajar banyak dari perempuan-perempuan hebat yang ada di seluruh dunia. Mempelajari kisah mereka bagaikan membaca lautan ilmu tentang “kesabaran dan kesetiaan” yang tak habis-habis direguk.

Salah satu sosok perempuan hebat yang ada di belakang seorang lelaki adalah seorang perempuan sederhana bernama Inggit Garnasih. Mungkin tak banyak yang mengenal sosok dan kepribadian perempuan yang satu ini selain merupakan nama sebuah jalan yang ada di salah satu sudut kota Bandung yang senantiasa hiruk pikuk oleh kemacetan. Namun nama besarnya terutama pada masa orde lama tak diragukan lagi oleh seluruh bangsa. Bahkan karena perannya itu pula nama perempuan ini pernah diusulkan untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.

 Sejarah perjalanan panjang Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia  memang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan seorang Inggit di sampingnya. Inggit Garnasih, seorang perempuan teramat sangat sederhana, istri lelaki bernama Sanusi yang kerap menghabiskan malam-malamnya bermain bilyar bersama teman-temannya. Ia adalah seorang perempuan setia yang senantiasa mengabdi kepada suami sampai pada suatu ketika datang seorang pemuda yang ingin indekost di rumah mereka, pemuda ini bernama kecil Kusno yang di kemudian hari kita kenal sebagai Soekarno. Sanusi adalah seorang pengusaha kaya yang juga pengurus Sarekat Islam afdeling Bandung yang mendapat rekomendasi dari HOS Tjokroaminoto agar mengayomi Soekarno di rumahnya.

Ketika Soekarno datang dalam kehidupannya, hari-hari Inggit menjadi lebih berwarna. Semangat Soekarno yang menggebu-gebu dalam percaturan politik di Indonesia membuat Inggit selalu tersenyum dan ikut larut di dalamnya. Sejak muda Soekarno memang sudah terlihat bakatnya untuk menjadi orang besar. Ia cerdas, bercita-cita tinggi dan berani. Ketika Sanusi suaminya sibuk di luar rumah mengurusi bisnisnya dan bersenang-senang dengan teman-temannya, Inggit tidak lagi merasa kesepian karena ada Soekarno dan mimpinya tentang Indonesia, tentang penjajahan, semangat perjuangan dan lain-lain yang senantiasa didengarkan oleh Inggit dengan penuh perhatian dan senyum. Inggit adalah sosok pendengar atentif yang dibutuhkan Soekarno. Perempuan itu, dengan mata berbinar, sangat meminati kisah dan pemikiran yang dituturkan sang mahasiswa.

Kala itu, Soekarno masih dalam status menikah dengan Oetari, puteri dari HOS Tjokroaminoto. Namun pernikahan itu tidak berjalan sebagaimana layaknya karena Soekarno lebih menganggap Oetari sebagai adik perempuannya. Bahkan diceritakan bahwa selama pernikahan berlangsung, Oetari belum pernah disentuh dan mereka belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Pada kesempatan itu, Inggit seringkali memberi saran kepada Soekarno untuk bertahan dalam pernikahannya, namun Soekarno pada akhirnya mengembalikan Oetari kepada keluarganya.

Singkat cerita, akhirnya entah siapa yang memulai, tumbuhlah benih-benih cinta antara Soekarno dan ibu kostnya tersebut. Pada suatu malam di Jalan Jaksa, mata hati Soekarno dan Inggit bertemu. Soekarno dengan tegas mengatakan: “Aku cinta padamu”.

Inggit tertunduk malu  sambil memilin-milin ujung kebayanya. Ia jatuh cinta, begitu saja. tanpa kata-kata dan bahasa, namun isyarat mata telah mengatakan segalanya. Semua berlangsung sangat sederhana, namun hal ini nyaris luput dan  terlupakan oleh segenap bangsa. Tak berapa lama, Inggit menghadap suaminya, Sanusi, dan meminta cerai, Soekarno mengaku pada Sanusi bahwa ia mencintai Inggit dan ingin melamarnya. Sanusi mengabulkan karena ia merasa memang pernikahannya tidak bahagia dan kosong. Akhirnya setelah menitipkan Inggit pada Soekarno dan berpesan untuk menjaganya baik-baik, Sanusi resmi menceraikan Inggit. Selang beberapa waktu, menikahlah kemudian Inggit dengan Soekarno yang usianya 15 tahun lebih muda darinya.

Dan saat itulah perjuangan dimulai. Jika Soekarno diibaratkan sebagai api, maka Inggit adalah angin sepoi yang akan menghembus api-api itu menjadi berkobar. Inggit menghibur dikala Soekarno merasa kesepian, menghapus keringatnya ketika Soekarno lelah , menjahitkan kancing-kancing bajunya yang terlepas. Inggit hadir memberikan kehangatan seorang ibu dan seorang istri yang kala itu sangat dibutuhkan oleh Soekarno. Inggit bagi Soekarno adalah selayak Khadijah bagi Muhammad. Bedanya hanyalah, Muhammad tetap setia pada Khadijah hingga istrinya itu meninggal dunia, sementara Soekarno menikah lagi dan dilepaskan oleh Inggit di depan pintu gerbang Istana dan Inggit kembali ke Bandung, merajut hari-harinya yang sepi kembali.

Kesetiaan Inggit patut diacungi jempol. Dalam kamus hidupnya tak ada kata menyerah, Inggit selalu memberi dan tak pernah sedikitpun meminta. Ia berjuang keras mencari nafkah. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit kutang untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno sibuk menyelesaikan kuliah dan berpindah dari satu podium ke podium yang lain, mengaum dan menancapkan kukunya di peta perpolitikan tanah air bagaikan singa yang lapar. Pikiran Soekarno tercurah sepenuhnya untuk pergerakan perjuangan Indonesia, sementara Inggit senantiasa setia menjadi tulang punggung perekonomian mereka. Tak jarang, Inggit mengepalkan uang untuk bekal Soekarno dalam perjuangannya.

Sungguh, cinta Inggit pada Soekarno adalah cinta yang tanpa pamrih tanpa motivasi apapun selain CINTA itu sendiri. Inggit melakukan apapun untuk kehidupan mereka dan membiarkan Soekarno tumbuh menjadi kuat. Ia menemani ketika Soekarno berpidato dan kerap membantu menterjemahkan pidatonya ke dalam bahasa sunda supaya rakyat dari berbagai kalangan dapat mengerti isi pidato tersebut. Inggit bukanlah perempuan berpendidikan banyak. Ia hanyalah sosok sederhana lulusan madrasah dan tidak dapat menulis latin kecuali hanya dapat membaca saja. Namun kekuatannya mendampingi Soekarno disaat-saat tersulit hidupnya patut diacungi jempol. Ia turut ke pelosok-pelosok menemani suaminya berpidato. Bahkan ketika Soekarno dipenjara di Banceuy pun Inggit dengan setia menjenguknya dengan mengajak Ratna Djuami ( anak angkat mereka ). Setiap pagi Inggit dan Ratna Djuami yang masih balita mengantar makanan untuk Soekarno. Empat susun rantang berisi nasi, lauk pauk, lodeh, dan sambal. Juga koran AID De Preangerbode, Sipatahoenan, dan Sin Po. Di balik daun pisang pembungkus kue-kue nagasari yang dibawanya selalu terselip uang logam untuk keperluan sehari-hari Soekarno di penjara dan untuk dibagi-bagikan ke sipir penjaga.


Inggit setia menemani Soekarno yang hidup terlunta di pembuangan. Jauh di Pulau Ende, hingga ke Bengkulu, Inggit tetap hadir. Bagaikan api bagi pelita Soekarno yang nyaris padam karena menderita, ia rela menemani suaminya dalam masa-masa tersulit perjuangannya. Inggitlah perempuan yang selalu berusaha mengingatkan dan menyemangati beliau. Tak ragu perempuan itu menguras tabungan, menjual perhiasan dan segala harta bendanya untuk membiayai segala aktifitas Soekarno dalam dunia pergerakan.

Saat mereka hidup dalam keterasingan di Bengkulu, kemudian hadirlah sosok wanita lain dalam kehidupan suami istri Soekarno dan Inggit Garnasih. Dialah Fatimah, yang lahir pada 5 Februari 1923 dan merupakan putri dari pasangan Hassan Din dan Siti Khatidjah. Ketika itu, Fatimah seringkali bermain ke rumah Soekarno di Bengkulu karena ia merupakan teman bermain Ratna Djuami (Omi), anak angkat suami istri tersebut. Saat itu, Inggit memiliki satu kekurangan yang menjadi sebuah pukulan telak baginya. Inggit tidak mampu menghadirkan keturunan bagi Soekarno. Inggit adalah seorang perempuan mandul. Walaupun saat itu Soekarno dan Inggit memiliki dua anak angkat ( Ratna Djuami dan Fatimah ), Soekarno tetap menginginkan keturunan langsung dari dirinya. Sayangnya hal itu tak mampu diberikan oleh seorang Inggit Garnasih.

Saat itulah, nama Fatimah terbersit dalam pikiran Soekarno untuk menjadi solusi bagi keinginannya memperoleh keturunan langsung tersebut. Beliau lalu mengajak Fatimah untuk menikah tetapi Fatimah menolak untuk dimadu. Begitu juga ketika Soekarno berkata ingin memadu Inggit, dengan tegas Inggit menolak keinginan tersebut.

“Enggit, aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain.” Ungkap Soekarno.

“Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!” jawab Inggit.

“Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Menjadi first lady seandainya kita nanti merdeka.”

“Tidak, pulangkan saja aku ke Bandung,” jawab Inggit lagi.

“Tidak mungkin aku menceraikan kamu, Enggit. Tidak mungkin. Bukankah bisa aku mengawininya sementara kita tidak bercerai?”

“Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu!” (Oh, dimadu? Kalau mesti dimadu, pantang!)

Demikianlah sekelumit dialog antara Soekarno dan Inggit pada waktu itu . Inggit mengijinkan Soekarno untuk menikah lagi dengan Fatimah, tetapi ia meminta untuk diceraikan terlebih dahulu. Inggit Garnasih lebih memilih merelakan diri untuk bercerai dengan Soekarno daripada harus dimadu oleh Soekarno. Dia merelakan segala kesempatan menjadi seorang first lady bagi bangsa Indonesia.

Akhirnya, Soekarno mengembalikan Inggit kepada keluarganya melalui sebuah pertemuan keluarga yang dingin dan kaku di Bandung. Soekarno menceraikan Inggit dan mengantarnya kembali tinggal di Jalan Ciateul Bandung, sementara Soekarno kembali ke Jakarta dan pada tahun 1943 menikahi Fatimah yang saat itu telah diberikan nama baru olehnya yaitu Fatmawati. Kepergian Soekarno dilepas oleh Inggit dengan doa dan harapan ketika proses perceraian itu usai. Doa itu berbunyi : “Selamat jalan dan semoga selamat dalam perjalanan”.

Saat itu, Inggit sama sekali tidak mengeluh dan menangis. Cinta Inggit kepada Soekarno sedemikian besar, semata-mata karena cinta, tulus ikhlas tanpa pamrih. Ia tidak terluka ketika dilukai dan tak merasa sakit saat disakiti.
 Dalam kesepiannya, ia senantiasa berdoa bagi Soekarno yang akhirnya menjadi Bapak Bangsa. Doa yang tak henti-henti dipanjatkannya sepanjang sisa usia.

Begitulah, hanya ada satu perempuan seperti itu, Inggit Garnasih. Ia telah mengantarkan Bung Karno ke gerbang kemerdekaan dengan kesabaran dan kesetiaannya selama 20 tahun. Meski telah bercerai, rupanya ia tetap memiliki rasa sayang dihatinya untuk mantan suami yang biasa ia panggil dengan nama kesayangan, 'Engkus'. Bahkan ketika Soekarno wafat, dengan tertatih-tatih Inggit yang saat itu sudah berusia sangat lanjut datang ke rumah persemayaman terakhir Soekarno dan memberikan doa terakhirnya. “Ngkus, geuning Ngkus the miheulaan, ku Nggit didoakeun..” ( Ngkus, ternyata Ngkus mendahului, Nggit mendoakan, Red )




[“Yang lalu sudahlah berlalu, aku telah mengantarkan Kusnoku, Kasepku, Kesayanganku, Fajarku ke gerbang kebahagiaan, gerbang cahaya yang dari dulu diimpikannya.”] (Perempuan Dalam Hidup Sukarno, Biografi Inggit Garnasih, Reni Nuryanti)








Inggit Garnasih Sebagai Seorang Inspirator

Sebagai seorang istri, tentulah saya mesti banyak belajar tentang bagaimana menjadi seorang istri yang baik. Bukan untuk menjadi istri yang sempurna, tetapi menjadi sosok yang dapat menyempurnakan lelaki yang saya dampingi hingga menjadi lengkap paripurna. Sosok Inggit Garnasih menjadi salah satu dari sosok seorang perempuan, seorang istri yang menjadi panutan saya dalam proses pembelajaran tersebut.

Bahkan inspirasi yang mengalir dari seluruh kisahnya sedikit banyak mempengaruhi jalan hidup yang harus saya tempuh. Ketika saya menikah pertama kali pada tahun 2000 dengan seseorang yang berusia 15 tahun lebih tua, saya belajar bagaimana tugas dan tanggung jawab saya sebagai seorang perempuan pendamping suami. Saya dan suami ( saat ini sudah menjadi mantan ) benar-benar memulai segalanya dari nol. Kehidupan yang harus kami lalui di awal perkawinan begitu sulit dan menguras pikiran juga tenaga. Saat itu (mantan) suami saya masih harus menganggur karena baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dimana masa-masa itu adalah masa paling mengharukan bagi saya, karena sebagai istri dan pendamping setia saya dituntut untuk memutar otak bagaimana caranya supaya kehidupan kami dapat terus berjalan dengan kondisi yang memprihatinkan seperti itu.

Saya yang saat itu dalam kondisi mengandung anak pertama, harus membantu suami mencari solusi terutama dalam hal perekonomian. Saat itu ( mantan ) suami seringkali merasa dirinya terpuruk karena gagal menghidupi kami, tapi saya tidak kecewa. Saya menjual koleksi buku-buku yang saya miliki ke loakan buku bekas dan menggunakan uangnya untuk makan dan memeriksakan kandungan ke bidan. Setiap kali memperoleh uang baik itu dari pemberian keluarga besar atau dari hasil usaha kecil-kecilan, saya sisihkan semuanya untuk membantu ongkos suami mencari pekerjaan. Saat itu prinsip saya adalah yang terpenting kami bisa hidup tanpa menyusahkan orang lain, dan tanpa berhutang apapun kepada orang lain. Ini berlangsung dalam 4 tahun pertama pernikahan kami.

Setiap kali jiwa saya merasa lemah, buku “Kuantar Ke Gerbang” (satu-satunya buku yang saya pertahankan) selalu saya baca dan baca lagi. Tak bosan saya mengagumi sosok Inggit yang begitu kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan yang beribu-ribu kali lipat lebih berat dari saya. Dan saat itulah semangat saya bangkit kembali. Saya BISA dan harus BISA !

Sampai pada akhirnya, roda kehidupan membawa saya dan ( mantan ) suami ke kehidupan yang lebih layak. Perlahan tapi pasti karirnya mulai menanjak dan kami mulai memperoleh apa-apa yang selama ini hanya dapat kami bayangkan saja. Namun disaat itu pula terjangan lain datang dalam kehidupan kami dan jauh lebih berat dari yang sudah-sudah. Saya berjuang keras mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik saya, hak saya, namun ternyata nasib berkata lain. Saya harus ikhlas melepas suami saya menjalani kehidupannya sendiri, tanpa saya ada disampingnya. Kami bercerai justru ketika suami saya ada pada awal kejayaannya. Ikhlas, hanya itu kunci yang saya pegang senantiasa, pun ketika pada akhirnya saya dan kedua anak saya mesti menjalani kehidupan ini bertiga dan berjuang kembali dari titik nol.

Seringkali saya tersenyum jika mengingat betapa kehidupan yang saya alami nyaris mirip dengan Inggit, sang tokoh panutan. Melepas suami kami di gerbang kemerdekaan. Menatap mereka dari kejauhan dengan doa dan harapan, “… Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan….”.

***

( sayangnya tak ada biografi atau biodata Inggit Garnasih yang dapat ditemukan dalam literature-literatur di Indonesia )




DAFTAR PUSTAKA
  1. Kuantar ke Gerbang: kisah cinta kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (1981), Ramadhan KH
  2. Ruang baca koran tempo online, ulasan : Kesetiaan Perempuan Di Sekitar Soekarno, http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwNw%3D%3D&dokm=MDQ%3D&dokd=Mjk%3D&dig=YXJjaGl2ZXM%3D&on=VUxT&uniq=NDY4
  3. Keluarga Presiden, http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/family/idx.asp?box=detail_family&from_box=list_family&id_family=21&hlm=1&presiden=sukarno&search_ruas&search_keyword&submenu=family&activation_status
  4. Inggit Garnasih Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, http://nasional.kompas.com/read/2008/12/17/20412474/Inggit.Garnasih.Diusulkan.Jadi.Pahlawan.Nasional
  5. Pengantar Bung Karno Ke Gerbang Kemerdekaan, http://rosodaras.wordpress.com/tag/inggit-garnasih/
  6. http://penakisemar.wordpress.com/2009/10/20/buku-harian-inggit-garnasih-1/
  7. http://rosodaras.wordpress.com/tag/inggit-garnasih/
  8. http://cak-faris.blogspot.com/2009/04/inggit-garnasih-dan-fatmawati-antara.html


(Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Words Share Contest Inspirational Public Figure

Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar