Puisi Penghabisan

Aku tak lagi percaya pada angin
Yang menghembuskan kabar gembira
Tentang hidupku yang akan baikbaik saja

Aku tak akan pernah lagi percaya pada hujan
Yang berjanji menyejukkan hati
Kala ribuan resah menebar ratusan kupukupu
Dalam sesak nadiku

Aku tak akan lagi meyakini bahwa bulan itu indah
Dan rumah kayu itu akan tetap kokoh berdiri
Karena pada akhirnya, hanya sunyi yang melingkupi

Aku tak lagi berharap pada melodimelodi lirih
Yang menemani malam-malam panjangku
Ribuan bisik yang kudengar ditelingaku
Perlambang dirimu yang selalu hadir di setiap hariku
Seluruh keajaiban yang menebar harum ke penjuru hati
Setiap hitungan detik hingga menit yang kita habiskanbersama
Jutaan bintang yang berkilau acap kali kusebut namamu

Berusaha menamatkan mimpimimpi
Tentang pangeran yang menyematkan cincin di jari
Tentang rumah kayu di pegunungan
Tentang bulan dan hujan yang kutanam di halaman
Tentang hati yang seharusnya tak lagi sendiri

Bahkan tak lagi kupercayai hatiku
Yang menuntunku melihat hingga ke batas cakrawala
Tak lagi kuyakini aku ada
Karena memang aku tak lagi ada

karena .. aku tak ada bila kau tak ada
karena ... aku mencinta

( Bandung, 18.08.10 , tepat 30 hari sebelum ceritaku ditamatkan )


Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar