Sepasang Sayapmu, Teman ...

Aku rindu kamu. Rindu seperti apa ? entahlah, rindu seorang teman kurasa. Rindu yang biasa-biasa saja. Bukan rindu menggebu-gebu yang membuatku ingin selalu bertemu. Bukan juga rindu mendebarkan yang membuatku menginginkan pertemuan. Tapi rindu yang membuatku tertawa mengingat hari-hari yang telah dilewati bersama.


“Jangan genit melulu,” cercamu kala itu. Ho ho ho, segenit apakah aku dimatamu ? genit karena banyak teman lelaki yang aku hadiahi senyum ? ataukah genit yang tersirat dari status-statusku yang lugas apa adanya ? tapi itulah kamu, dan semua hal tentangmu yang membuatku makin merindu. Kamu yang apa adanya, mencela, mengejek, memarahiku habis-habisan, melontarkan sekitar seribuan kalimat sinis tentang sikapku yang selalu salah di matamu. Namun disanalah kutemukan kehangatan itu. Aku dan kamu, kamu dan aku, kita bagaikan Tom and Jerry, tampak saling tak suka namun sesungguhnya saling menyayangi.


Aku nyaman bersamamu. Ketika kita berbincang dengan banyak orang bersama-sama dan kau membisikiku di belakang mereka, “Ini gak asyik. Kita jauh lebih asyik..” aha ! dan kamu memonopoli waktuku dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga tak terasa bulan kedua kita lalui. Tanpa sadar, kau telah memiliki waktuku jauh lebih banyak dari siapapun. Tapi monopoli ini adalah monopoli yang asyik. Monopoli yang akan kurindukan mungkin sekian puluh tahun ke depan.


Perhatianmu sungguh luar biasa. Mencecarku hingga kehabisan udara. Menghujaniku bukan dengan kalimat-kalimat manis yang mampu menekuk lutut para gadis. Kemampuanmu membuatku tertawa saat datang airmata, membuatku tergugu dan hanya bisa membisu. Terbuat dari apakah dirimu ?


Kau dan aku, kita berdua seperti orang yang sedang jatuh cinta. Padahal sungguh tidak. Kau selalu mengingatkanku bahwa kelak, akan datang Petir yang berbeda dari petir-petir yang lain untuk melengkapi hujanku. Petir yang akan membuatku bangun dari mimpi-mimpi masa remaja. “Kau tidak akan kemana-mana. Tetap di sana, bertemu seseorang dan hidup bahagia selamanya. Seperti dongeng masa lalu, tapi kupertaruhkan reputasiku untuk itu,”


Luar biasa betapa kau mampu menularkan sikap optimismu itu kepadaku yang terkadang seperti seorang pesimis sejati. Selalu mengeluh di hadapanmu. Tapi percayalah, hanya di depanmu aku mampu begitu. Karena aku tahu, kamu akan mendengarkan. Ya, cukup dengarkan aku. Tak perlu kita memperbincangkan segala kesakitan itu.


Ingatkah bahwa suatu ketika kau pernah berkata, mungkin kelak kebutuhan kita akan jadi candu ? ketika aku mulai terbiasa mendengarkan bisikan-bisikanmu di telingaku saat aku terbaring dalam sakit. Kuat, kuat dan selalu kuat, begitu bisikmu lembut. Selalu khawatir tentang aku. Mencemaskanku dalam diam. Memperhatikanku dari atas awan tak terjangkau, dengan doa-doa yang berjatuhan dari setiap jemari tangan yang kau tangkupkan sebelum tertidur.


“Kalian terlihat begitu dekat, kalian saling mencintai ?” tanya seorang teman. “Bukankah itu gunanya teman ? menjadi bagian terdekat dari diri kita ? sesuatu yang patut disyukuri setiap detiknya ?” jawabku tanpa ragu. Ya , aku mencintaimu. Aku nyaman bersamamu. Kau tak pernah menawarkan lebih karena kau tau pasti apa yang aku butuhkan dalam hidup ini. Aku butuh teman, dan kau selalu ada saat itu. Masih kurangkah itu ? bagiku, cukup. Sungguh luar biasa.


Ya. Aku tahu kau rindu karena aku juga begitu. Meski bukan rindu yang membuatku tak bisa tidur karena selalu mengingatmu. Bukan rindu yang membuatku cemburu dan gelisah ingin bertemu. Bukan rindu yang membuatku ingin memilikimu seutuhnya hanya untukku saja. Aku menyayangimu dan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Mencintaimu dan membuktikannya di setiap waktuku. Meski katamu aku seolah tak perlu, meski ujarmu aku seolah tak peduli. Tapi tahukah kau, kubawa namamu dalam setiap sujud malamku dan doa-doa panjangku ?


Hujan, senja, purnama, sebaris awan berbentuk sisik, sebuah bintang yang lebih terang dibanding yang lain, lagu-lagu lawas yang kita nyanyikan bersama dengan penuh semangat dan tawa, semua itu mampu membuatku makin mensyukuri kehadiranmu, temanku. Kelak, ketika kita bertemu, akankah kau masih akan memanggilku : TEMAN ?



( Untuk seorang sahabat yang sungguh luar biasa indah, terima kasih. Tetaplah kembangkan sayapmu untukku... )


( Timur Bandung, 05 Juli 2010 )

Lygia Pecanduhujan

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar